Melihat Telaga Warna Dieng dari Bukit Sidengkeng

Sungguh Indonesia sangat kaya dengan tempat-tempat wisata alam yang unik dan menarik. Telaga Warna Dieng termasuk tempat wisata alam yang unik itu. Telaga ini berada di kawasan dataran tinggi Dieng atau Dieng Plateu di kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.  Dibilang telaga warna karena telaga ini memang seperti punya warna. Bisa hijau, kuning, atau perpaduan dari beberapa warna. Penyebabnya tidak lain adalah karena telaga ini mengandung senyawa sulfur atau belerang. Dengan luas 30 hektar lebih, ditambah adanya telaga Pengilon dan pegunungan yang mengelilingi kedua telaga tersebut, tentu lokasi indah sekali untuk dinikmati.

Saya ke Telaga Warna Dieng ini sepulang dari Sikunir dan desa Sembungan. (Baca : Sunrise di Sikunir). Kalau saat berangkat ke Sikunir saya tak bisa melihat apa-apa karena gelap. Nah..balik dari Sikunir barulah keindahan alam Dieng bisa saya lihat. Pegunungan yang mengelilingi Dieng, kebun sayur mayur, pohon carica yang berderet di tepi jalan, juga instalasi pembangkit listrik tenaga panas bumi Dieng bisa kita lihat di sepanjang jalur turun dari Sikunir ke Telaga Warna. Sebenarnya banyak tempat juga yang bisa dikunjungi, seperti Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Dieng Theatre. Tapi kami lewatkan semua lokasi itu..kami langsung ke Telaga Warna.

Dieng2

Pohon Carica dan Kebun Sayur

Ada banyak titik yang bisa dijadikan tempat menikmati Telaga Warna. Kalo saya melihatnya dari Bukit Sidengkeng di Wana Wisata Petak 9. Masuknya tepat di sebelah loket masuk Telaga Warna Dieng dan bersebrangan dengan tempat parkir kendaraan.  Pengunjung yang akan ke Bukit Sidengkeng ini wajib membayar tiket masuk sebesar 3000 rupiah per orang (tidak termasuk uang parkir ya..).

Oya…saat di tempat parkir ada ibu-ibu yang menawarkan masker untuk dipakai saat naik Bukit Sidengkeng. Karena katanya bau belerangnya tercium sangat kuat. Saya kebetulan bawa masker dari rumah, jadi ya..ga perlu beli lagi. Tapi kalo pas gak bawa..ya gak ada salahnya beli masker..jaga-jaga gak kuat sama bau belerangnya. Dan emang bener lah…baru masuk sekitar 50 meter dari gerbang aja…brenggggg…bau belerang udah berdesak-desakan masuk ke hidung. Tapi setelah naik lagi..ilang.. Ntar bau lagi.. Ya gitu deh..

Saya dan teman-teman tadinya mau masuk langsung ke Telaga Warna dengan harga tiket masuk 7000. Tapi karena ibu penjual masker itu juga memberi tahu kalau mau bagus pemandangan telaga warna nya dilihat dari Batu Ratapan Angin atau dari Sidengkeng, akhirnya kami batalkan masuk ke Telaga Warna. Pasti viewnya bagus dari bukit-bukit itu. Kami pilih Sidengkeng karena udah dekat, tinggal nyebrang aja dari parkiran.  Kalo ke Bukit Ratapan Angin harus ke arah Dieng Theatre lagi alias balik lagi, secara kami baru turun dari Sikunir kan… Ya daripada balik lagi keatas…  Beda viewnya kalo dari Batu Ratapan Angin…yang tampak depan adalah Telaga Pengilon, Telaga Warna jadi backgroundnya. Kalo view dari Bukit Sidengkeng…yang jadi background Telaga Pengilonnya.. Well….kami ambil Sidengkeng aja deh…dah di depan mata ini 😀

Yang khas dari Wana Wisata ini kalo menurut saya sih tanaman Hortensia. Bunganya bergerombol besar dengan warna yang cantik-cantik. Katanya sih Wana Wisata Petak 9 ini memang dirancang untuk menjadi pusat koleksi tanaman endemik Dieng. Tapi mungkin memang belom selesai pengerjaannya…jadi yang menonjol lebih banyak tanaman rumputnya.. hehehe.

Dieng1

Bunga Hortensia

Jalanan menuju atas bukit juga belum seluruhnya dipaving seperti di sekitar gerbang masuk. Jalannya masih berupa karung pasir yang disusun gitu aja. Ya sebenarnya jalan tanah aja gak masalah sih..namanya juga wisata alam. Tapi memang kawasan Dieng ini sepertinya lagi berbenah, memperbaiki segala fasilitas demi memanjakan pengunjung. Jalanan di tempat-tempat wisatanya dipaving semua, termasuk jalan menuju bukit Sikunir. Cakep juga sih…kesannya bersih banget dan rapi. Salut buat wisata Jateng (ini komentar tulus bukan karena dibayar loh 😀 ).

Dieng3

Perjalanan di Bukit Sidengkeng

 

IMG-20160809-WA0001

No Caption 😀

Di Wana Wisata Petak 9 sebenarnya tersedia camping ground, rumah pohon, dan sarana buat foto-foto lainnya. Tapi karena rumputnya rimbun untuk ke camping ground dan rumah pohon..ya kami gak mampir kesitu. Lanjut terus lah sampe separuh perjalanan ada tempat yang agak lapang dan tersedia tempat foto-foto di atas pohon.  Cukuplah foto-foto disini. Ya…maklumlah…setelah turun dari Sikunir ditambah belum tidur sejak berangkat dari kota masing-masing, kayaknya kami udah capek aja melanjutkan perjalanan ke atas sampai puncak bukit. Gak papa lah…udah sampe di setengah bukit Sidengkeng aja dah cukup dan gak merasa rugi kok. Pemandangannya cakep..bisa lihat Telaga warna sama Telaga Pengilon di belakangnya.  Cuaca cerah pagi itu ..jadi tak ada kabut yang menghalangi pemandangan dari Bukit Sidengkeng ke Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Dieng4

Telaga Warna Dieng dengan Latar Belakang Telaga Pengilon

Setelah puas berfoto…kami putuskan untuk turun saja, padahal masih sekitar 200 meteran lagi ke puncak bukit. Kami pengen cepet-cepet istirahat di Magelang atau di Jogja, karena  besok paginya masih ada rencana ke Punthuk Setumbu. Nanjak lagi kan itu? 😀 😀

Advertisements

Sunrise di Sikunir

Diantara sekian banyak daerah dengan kategori dataran tinggi di Pulau Jawa, adalah desa Sembungan yang tingginya sekitar 2300 mdpl. Inilah desa tertinggi di Pulau Jawa. Disusul kemudian desa Ngadas di Poncokusumo kabupaten Malang (2150 mdpl). Desa Sembungan berada di kawasan dataran tinggi Dieng kabupaten Wonosobo.

Saya berkunjung ke desa yang berada di kaki bukit Sikunir ini lewat Solo-Boyolali-Magelang-Temanggung. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan dari Solo untuk menuju ke daerah yang terkenal juga dengan Telaga Warna nya ini.

Jalan menuju kawasan Dieng relatif bagus meski sempit. Dengan penerangan jalan dan marka jalan yang sangat minim, perjalanan pada malam hari sampai menjelang pagi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Apalagi bila kabut mulai turun.

Perjalanan ke kawasan Dieng ini hampir sepenuhnya kami mengandalkan petunjuk neng google map. Meski sesekali suaranya memberikan petunjuk sinyal yang tidak mendukung, akhirnya sampai juga di pintu gerbang kawasan Dieng.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, ada 2 petugas yang standby di loket dan siap memberikan peta dan menarik retribusi per orang 10.000 rupiah. Dari sekian banyak tempat yang bisa dikunjungi, kami memilih Sikunir sebagai tujuan pertama. Tujuan lainnya bakal kami sambangi setelah dari Sikunir.

SIKUNIR13

Tiket Masuk Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Karena sinyal semakin enggan membantu neng google map memandu perjalanan kami, akhirnya ya kami murni mengandalkan peta yang diberikan petugas loket tadi. Yahh..sambil celingak celinguk dan lirik peta untuk memastikan kami berada di jalur yang benar.

Semakin mendekati desa Sembungan, jalanan mulai rusak. Karena tidak melihat rambu penunjuk jalan dengan jelas dan tak ada orang yang bisa kami tanya..sempat kami pikir kami kesasar. Tapi setelah meneruskan perjalanan dan melihat kumpulan titik cahaya..kami yakin jalan kami benar. Dan alhamdulillah memang benar, kami sampai juga di Sembungan.

Desa ini mengingatkan saya pada desa Ranu Pane di kaki Semeru. Kalau di Ranu Pane terdapat 2 telaga, di Sembungan terdapat 1 telaga di tengah desa yang luasnya sekitar 12 hektar, yaitu Telaga Cebong.

Di desa berpenduduk 1400 an jiwa ini sudah tersedia fasilitas home stay, tempat parkir umum yang luas, toilet, toko-toko souvenir dan perlengkapan pelindung hawa dingin, juga warung makanan.

Tampaknya yang berniat untuk bersunrise ria di bukit Sikunir banyak juga. Buktinya parkiran sudah hampir penuh dengan mobil pengunjung, dan masih terus berdatangan. Pengunjung yang akan naik ke Sikunir..bayar retribusi dulu ya…10.000 per orang.

SIKUNIR14

Tiket Sikunir

Petunjuk untuk menuju bukit Sikunir cukup jelas dan jalan selebar 3 meter juga sudah berlapis beton. Jalannya menanjak terus dah…dengan sesekali bonus jalan datar. Etapi itu cuma sekitar 200 meter awal perjalanan aja ya… 😀 karena setelah itu jalannya ya jalan tanah…trekking seperti naik gunung biasanya itu lah… Klo petunjuknya sih sekitar 800 meter jalan trekking yang dominan tanjakan untuk sampai ke puncak.

Jalannya emang gak mudah untuk kategori wisata santai sih…Apalagi jalannya kan gelap..dan sedikit sisa hujan bikin jalanan agak licin. Ya harus ekstra hati-hati. Dan ada banyak persimpangan jalur.. Ntar ketemunya jalurnya sih sama aja..

Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai puncak bukit Sikunir ini, jadi saat sampai di puncak masih gelap. Di kawasan puncaknya banyak puncak-puncak punggungan yang menjadi pilihan pengunjung menyambut momen terbitnya matahari. Eh ada warung dan musolla juga loh.. Ya alakadarnya…yang penting pengunjung masih bisa solat subuh.

Tak lama setelah sampai di puncak, terdengar kumandang azan dari arah kaki bukit. Kemudian ada warga yang mengingatkan dengan pengeras suara “bagi yang belum solat subuh…silahkan solat dulu…disini tersedia musholla… Ayo yang belum solat subuh…silahkan solat.. Air wudunya juga tersedia..”

Waktunya pas kok…setelah solat subuh…tak perlu menunggu lama..perlahan langit pun memerah di ufuk timur. Lekukan alam yang menghampar di bawah sana mulai terlihat jelas. Disini bukit..disana bukit,di kanan gunung.. Indah sekali. Rasa lelah setelah melalui tanjakan sepanjang 800 meter..hilang begitu saja. Rasa kantuk karena belum tidur..sirna disapu bentangan alam yang menakjubkan di depan mata. Hawa dingin..ahhh dinikmati saja lah… Morning has broken….dan seluruh permukaan puncak berwarna kuning seperti kunyit/kunir tertimpa sinar matahari. Sesuai dengan namanya..Sikunir.

SIKUNIR6.jpg

Sunrise di Sikunir

 

SIKUNIR5.jpg

Sunrise di Sikunir

 

SIKUNIR7.jpg

Menunggu Sunrise

 

SIKUNIR2.jpg

Menunggu Sunrise

SIKUNIR8.jpg

Ada warung di Sikunir

 

Setelah matahari sempurna menyinari puncak Sikunir..barulah kami turun lewat jalur berbeda. Katanya sih lebih landai. Tapi sebelum turun kami menyempatkan mengisi perut di warung yang ada di sekitar puncak. Lumayan..ada gorengan tahu dan tempe kemul dan minuman hangat di tengah hawa dingin yang mulai terasa. Iyaaa giliran mataharinya mulai tinggi malah dinginnya terasa…

Oke…perut sudah sedikit terisi…lumayan buat energi turun bukit ..*halahh* Dan ternyata olalaaaa jalur yang katanya lebih landai…hmmmm…curam bangetttt..dan kami harus lebih ekstra hati-hati… Karena selain curam, jalurnya sangat sempit..seperti tangga batu..kanan tebing kiri jurang. Tapi dari jalur ini..kami bisa melihat pemandangan yang mungkin tidak bisa dilihat di jalur berangkat.. Dan alhamdulillah nyampe juga…

SIKUNIR9

Jalur Turun Sikunir

 

SIKUNIR10.jpg

Jalur turun, tampak di bawah adalah Telaga Cebong di desa Sembungan

 

SIKUNIR3

Jalan yang sudah berpaving

Energi dari gorengan dan minuman hangat saat di atas bukit Sikunir tampaknya sudah habis..dan kami tak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi olahan kentang yang sebenarnya sudah ditawarkan pedagang sejak berangkat.

SIKUNIR11.jpg

Di kaki Sikunir

Kentangnya kecil-kecil,warga menyebutnya kentang rindil. Tanpa dikupas..kentang dimasak dan dibumbu semur atau kare.. Ehhmmhhh rasanyaaa..maknyusss..dimakan aja sama kulitnya gitu. Enak banget. Satu kotak 5.000 saja. Cocok untuk santapan pagi..diantara dinginya angin pegunungan yang berbaur dengan hangatnya sinar mentari pagi.

SIKUNIR12.jpg

Kentang Rindil Bumbu Semur

Ada juga yang memesan nasi jagung . Ahh saya pikir nasi jagung mah..makanan sehari-hari saya di rumah. Setelah melihat yang dimakan teman saya..oowhh ternyata beda. Jagungnya warna putih..dan lebih halus remahannya. Disantap bareng sayur urap, ikan asin goreng tepung, dan sambel.. Ohhh itu enaknya paten banget.. Sama aja sih…harganya juga 5000 sajahh. Seneng deh di tempat wisata kalo harga kulinernya masih wajar kayak gitu.

SIKUNIR4.jpg

Nasi Jagung Sikunir

Setelah menyelesaikan santapan ringan di halaman sebuah kafe di jalur turun dari bukit Si Kunir..kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Perlahan meninggalkan kawasan desa tertinggi di Jawa…menuju lokasi berikutnya. Telaga Warna Dieng.