Indonesia, True Paradise

#10daysforASEAN day 3

Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN.  

Baiklah…Bicara tentang tagline untuk keperluan branding tujuan wisata di Indonesia tidak bisa selesai dengan hanya membuat tagline dan artinya. Apalagi bila tujuannya adalah bersaing dengan negara lain yang sudah punya branding kuat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari luar negeri. Tagline Indonesia akan bersaing dengan :

  • Malaysia dengan Trully Asia nya
  • Singapura dengan Uniquely Singapore nya
  • Thailand dengan Amazing Thailand nya

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia punya..beberapa malah ..bukan cuma 1 tagline. Visit Indonesia Year 1991, Indonesia: Ultimate in Diversity, Kenali Negerimu Cintai Negerimu, dan Wonderful Indonesia. Nah..mungkin karena banyak inilah.. jadi tidak ada yang melekat menjadi branding. Sementara Malaysia memakai tagline Truly Asia sejak 2006 sampai sekarang.

Memang yang dibutuhkan produk (pariwisata Indonesia) bukan sekedar tagline yang indah dan menarik. Tapi lebih dari itu, hal-hal yang terkait dengan pariwisata itu sendiri harus menunjang. Apa saja? Kebijakan pemerintah, konsep pariwisata dan pengembangannya, serta kesiapan masyarakat.  Membuat tagline untuk brand nation juga membutuhkan proses yang tidak sederhana dan biaya yang tidak sedikit. Tapi apabila proses dan implementasinya dilakukan dengan sungguh-sungguh hasilnya tentu saja sangat luar biasa. Muhammad Iqbal, salah seorang praktisi perhotelan dan pegiat pariwisata menguraikan, ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk sampai pada pemilihan tagline branding, yaitu :

  1. Audit atau research sebagai langkah awal yang paling menentukan, meliputi  Consumer Research, Communication Audit, Competitive Review, Stakeholders Audit, Facilities Audit, External Poll.
  2. Penetapan visi , sesuai dengan hasil audit.
  3. Eksplorasi tagline, disesuaikan dengan penetapan visi.
  4. Brand guidelines, merupakan langkah akhir penentuan brand. Disini brand yang sudah dihasilkan diterjemahkan standart aplikasinya, berupa pemilihan desain, bahasa, warna, huruf, simbol, penyampaian, atmosfer, suara, dsb.
  5. Master plan destination marketting communication,  brand yang sudah jadi dikomunikasikan dengan sistematis, terencana, terintrgrasi, tepat sasaran, dan terstruktur.

 

Jadi..kalau saya diminta untuk membuat tagline yang cocok untuk Indonesia, katakanlah sudah dan akan melalui tahapan-tahapan yang disebutkan tadi ya…hehe. Dan tagline nya adalah….Indonesia True Paradise. Sebenarnya saya tertarik menjadikan branding Jogja Never Ending Asia sebagai branding nastion menjadi Indonesia Never Ending Asia..tapiii…hmmm..terlalu mirip punya Malaysia yang sudah lebih ngetop dan begitu melekatnya di seluruh dunia serta sukses meraup puluhan juta wisatawan asing. Sudah pasti akan dikira meniru.

Jadi..tagline Indonesia True Paradise sebagai brand nation menurut saya sangat tepat karena obyek pariwisata di Indonesia tak ada tandingannya, apalagi untuk level ASEAN. Wisata alam seperti Raja Ampat, Taman Laut 17 Pulau Riung, Banda Neira, Pulau Komodo, Pulau Sipora Mentawai, gugusan gunung dari Sumatera sampai Papua, hanya Indonesia yang punya. Negara ASEAN lainnya..tidak punya. Belum wisata budayanya dengan kekayaan seni tradisi yang begitu melimpah. Belum kulinernya. Di dunia pun tak ada yang se komplit Indonesia. Dengan tagline tersebut Indonesia menjadi paradise bukan hanya di lingkup Asia tapi juga dunia.

Penggunaan tagline Indonesia True Paradise juga bukan hanya untuk 1-2 tahun, tapi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Meskipun ada pergantian beberapa periode pemerintahan, tagline ini masih dipakai agar tidak bernasib seperti tagline sebelumnya. Promosi yang dibuat juga harus gencar dan kontinyu. Dengan tahapan serius dan proses promosi yang terarah dan terintegrasi didukung kebijakan pemerintah,pengembangan daerah tujuan wisata, dan partisipasi masyarakat Indonesia sendiri, yakinlah tagline Indonesia True Paradise mampu menarik wisatawan asing dan domestik lebih daripada yang sudah dicapai Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan India.

Serumpun tapi Tak Sama

Tantangan hari kedua #10daysforASEAN :

Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada.  Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

Inilah pendapat saya :

Bahwa negara-negara di ASEAN serumpun, sudah pasti iya. Tanda-tandanya apa? Tentu saja bukan hanya ditemukan pada Candi Borobudur di Indonesia dan Angkor Wat di Kamboja. Meskipun menurut saya Angkor Wat lebih mirip Candi Prambanan, apalagi tujuan pendirian kedua candi juga nyaris sama. Angkor Wat dan Candi Prambanan dibuat untuk tempat suci umat Hindu, sementara Borobudur untuk umat Budha. Tapi secara umum candi-candi di Asia Tenggara memang nyaris sama dipengaruhi Hindu dan Budha, seperti Candi-candi di Lembah Bujang Kedah Malaysia, Thailand, Myanmar, Burma, dan tempat lainnya di Asia Tenggara.

Bukan hanya candi yang menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN adalah serumpun atau se nenek moyang atau sekeluarga. Berbagai kesamaan atau setidaknya kemiripan di negara-negara ASEAN jelas menunjukkan kalau negara-negara ini serumpun. Apa kesamaannya?

  • Sejarah, negara-negara di ASEAN sama-sama berawal dari kerajaan Agraris dan Maritim dengan pengaruh kuat India dan Cina, sebelum masa penjajahan bangsa Eropa.
  • Seni dan Budaya, karena kesamaan latar belakang sejarah maka banyak peninggalan-peninggalan yang juga nyaris sama dengan pengaruh Hindu, Budha, dan Islam . Karya seni tari dan musik diantara negara-negara ASEAN mempunyai banyak sekali kemiripan.
  • Bahasa dan Sastra, bahasa sansekerta sama-sama menjadi bagian dari sejarah negara-negara ASEAN. Kisah-kisah wayang kulit di Malaysia, Indonesia, Kamboja, dan Thailand berasal dari sumber yang sama, yaitu India.
  • Ekonomi, negara-negara ASEAN sama-sama dalam kondisi berkembang.
  • Selain karena faktor sejarah, persamaan yang ada di negara-negara ASEAN karena faktor penduduk. Warga Indonesia yang tinggal di Malaysia membawa budayanya dan berkembang dengan luas.

Kesamaan dalam berbagai aspek ditambah posisi geografis yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dan kekayaan sumber daya alam (kecuali Singapura ya…) juga menjadi dasar awal pembentukan ASEAN. Sampai sekarang perkembangan masing-masing negara ASEAN belum sejajar, masih banyak yang perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing dengan negara maju. Dan yang terpenting adalah dengan berbagai upaya yang sudah dan akan dilakukan, salah satunya pembentukan ASEAN Community 2015, mampu menjadikan ASEAN sebagai komunitas yang berorientasi pada kepentingan dan memberikan manfaat pada rakyat, berpusat pada rakyat, dan digerakkan pada rakyat.

Marhaban Ya Ramadan

Alhamdulillah..kita dipertemukan lagi dengan Ramadan. Bulan yang penuh berkah danberlimpah pahala. Mengawali Ramadan, saya mendapat 2 kabar gembira yang membuat saya jadi semangat dan yakin kalau saya bisa. Kabar gembira pertama adalah ketika mendapat kiriman foto tentang buku Budidaya Mangga di Lahan Sempit yang sudah beredar di toko buku, salah satunya Gramedia. Buku ini ditulis berdua dengan Sri Rahayu, adik kelas di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (tapi saya lebih mengenalnya sebagai Anggota Muda di Impala Unibraw).

Buku Budidaya Mangga di Lahan Sempit @ Gramedia Pondok Gede

Ah..percaya gak percaya melihat foto itu. Bagaimana tidak..saya baru aktif menulis lagi setelah hampir 10 tahun tak pernah menulis ketika menawarkan diri menjadi partner duetnya menulis salah satu topik buah-buahan untuk dijadikan buku. Waktu itu tawarannya banyak sekali topik, mulai dari kelengkeng, mangga, sampai ayam, bebek, dan lele. Saya memilih mangga karena di sekitar rumah saya sendiri berbagai macam jenis mangga tumbuh subur dan hasilnya melimpah setiap tahun. Keberadaan mangga-mangga itu menjadi referensi penting.

Tulisan saya di buku itu tentu saja masih jauh dari sempurna. Tapi sejak menulis di buku itu saya jadi semakin keras berusaha konsisten menulis. Mulai membuat blog lagi dan meng-up date nya, ikut grup-grup penulis di Facebook, semakin betah blog walking, dan ikut lomba menulis.

Dari ikut lomba menulis, di awal ramadan saya juga mendapat bingkisan cantik dari salah satu penyelenggara lomba yang digelar April 2013. Lomba menulis Radio Female dalam rangka Hari Kartini. Saya menuliskan kisah tetangga saya di Sumenep yang berjuang keras menyekolahkan putrinya sampai jenjang S1. Saya tahu kalau tulisan saya memenangkan lomba itu sebulan lebih setelah pengumuman. Tak sengaja membuka Inbox akun Facebook saya, dan melihat pada bagian ‘Lainnya’. Pesan-pesan dari bukan teman masuk di kotak ‘Lainnya’ ini. Disitu ada salah seorang yang mengucapkan selamat atas kemenangan saya di lomba menulis dan berniat untuk wawancara online. Saya kaget dan akhirnya kroscek ke Female Circle yang membenarkan informasi itu. Sampai akhirnya saya menerima hadiah berupa kain songket dan perhiasan Manjusha.

Hadiah dari Radio Female

Bahagia sudah pasti. Sebuah awal yang menakjubkan buat saya. Awal yang membuat saya harus lebih banyak belajar menulis. Menulis yang enak dibaca dan informatif. Sambil belajar saya juga mencari peluang penulisan yang ‘menghasilkan’ karena ternyata peluang itu banyak sekali.. 🙂 Tetap Semangat!

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

 

 

School End…

16 Juni 2013, inilah hari yang ditunggu putri-putriku. Setelah berlatih 2 bulan  lebih, hari ini mereka akan naik panggung dalam acara perpisahan. Sekolah mereka menamai acaranya ‘Tadabur Alam dan Pelepasan’. Nares sebagai siswa TK-B akan tampil di panggung bersama 10 orang temannya membacakan hafalan surat An-Naba (40 ayat) berikut artinya, dan puisi. Sedangkan Kinar yang akan melanjutkan ke kelas TK-A membawakan tari ‘Ceria’.

My Lovely Nares - Kinar

Sekolah mereka berusaha membuat acara pelepasan berbeda dengan sekolah lainnya, bukan di gedung tertutup dan tanpa toga. Hasilnya adalah, acara digelar di sebuah pendopo di pinggir pantai, siswa yang dinyatakan lulus mendapat selempang ‘Aku Bisa’ yang bertuliskan kemampuan masing-masing siswa, undangan duduk lesehan beralas tikar, dan semua siswa yang tampil mengandung unsur ‘go green’, tak ketinggalan juga lomba bakar jagung untuk para ortu yang hadir. How green? Well, Kinar dan teman sekelasnya diminta untuk memakai seragam sekolah dan membawa songket untuk tambahan aksesoris pakaiannya. Di lokasi acara para guru memberikan mahkota dari daun kelapa. Siswa lainnya ada yang memakai mahkota dari daun puring,  ada juga yang menempelkan daun-daun di kostum penari ‘Katak Seldung’ (tarian dengan lagu Kodok Ngorek versi Madura). Sederhana lah pokoknya..jauh dari kesan wah..

Nares and Friends

Kinar and Friends

Selain itu tabung yang digunakan untuk tempat ijazah dan buku alumni yang dibagikan kepada siswa terbuat dari botol plastik bekas minuman soda. Mereka mengumpulkannya dari siswa (setiap siswa diminta membawa 2 botol bekas 3 minggu sebelum acara), dan mengolahnya sedemikian rupa menjadi wadah yang lucu.

Hal-hal seperti itulah yang saya suka dari sekolah ini. Mereka mengajarkan anak-anak untuk memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang bermanfaat. Sampai di rumah tabung eks botol itu jadi mainan sehari-hari, kadang mereka memainkannya seperti boneka yang digendong-gendong.

Recycled

Tapi kesederhanaan acara akhir tahun ajaran ini berbanding terbalik dengan penyediaan fasilitas belajar. Misalnya untuk raport dan buku-buku paket untuk belajar di sekolah. Cukup mewah buatku..meski biaya yang harus dibayar tak semahal di sekolah Nares dan Kinar sebelumnya. Seperti apa kah gerangan? Nanti ya aku ceritakan di tulisan lainnya.

Menanam Yuuukk… :)

Hari libur Isra’Mi’raj anak-anakku bermain di rumah saja. Pagi-pagi selesai makan dan mandi, aku biarkan mereka bermain di halaman. Dari dalam rumah aku hanya mendengar mereka tertawa dan sesekali terdengar berebut sesuatu. Ketika aku di dapur, si kakak masuk,

“Bunda aku belajar tanam tanaman..”

“Oya?tanam apa…?”

“Tanam tanaman…di pot botol..”

Hmm…kedengarannya kreatif ya… si kakak ke dapur untuk mencuci tangannya yang penuh tanah. Hasil tanam menanamnya belum ia tunjukkan. Sebentar setelah mencuci tangan, kakak keluar lagi. Sambil berlari kakak membawa hasil tanam menanamnya ke dalam rumah. Kemudian disusul adiknya yang juga membawa hasil tanam-menanamnya.

“Bunda lihat deh tanamanku…” kata kakak dan adik. Kulihat baju kakak dan adik basah karena keringat. Rupanya mereka memasukkan tanah ke botol itu dengan susah payah di bawah terik matahari pagi.

“Waaaww…sip..!” aku berkata sambil melihat satu-persatu ‘pot’ mereka. Lalu anak-anak sibuk mencari gelas plastik bekas air mineral untuk menyiram tanamannya. Aku tak tahu pot botol yang mereka pakai dari mana.

Kapan-kapan kita bikin kebun beneran ya nak…:) Gambar