Penghijauan di Pantai Sembilan Giligenting

penghijauann

Siang menjelang sore perahu yang saya tumpangi mendarat di pelabuhan desa Bringsang Pulau Gili Genting. Angin bertiup kencang..membuat hempasan ombak membasahi sebagian jalan akses menuju pelabuhan. Saya datang ke pulau ini untuk ikut kegiatan penghijauan bersama teman-teman dari Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Sumenep.

Setelah semua barang diturunkan dari perahu, kami bergegas menuju gerbang pelabuhan dan menunggu angkutan ke Pantai Sembilan. Sambil lalu kami merapikan  ratusan batang bibit cemara udang yang kami bawa dari Sumenep daratan. Bibit-bibit itu akan kami tanam di sepanjang bibir Pantai Sembilan.

penghijauaaan

Tak lama kami menunggu, angkutan milik kepala desa datang dan membawa kami ke pantai yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari pelabuhan. Sesampainya di pantai kami langsung menyiapkan segala sesuatu untuk penanaman tersebut. Beberapa peralatan kami keluarkan dari tas backpack masing-masing, seperti tali rafia, gunting, potongan bambu, dan lainnya. Sedangkan peralatan untuk menanam sudah disediakan oleh pengelola kawasan.

Kami kemudian menentukan area penghijauan, mengukur jarak tanam, dan membuat lubang tanam. Tidak terlalu banyak warga yang terlibat dalam kegiatan ini, hanya kepala desa dan beberapa perangkatnya saja. Ada juga beberapa karyawan dan pimpinan bank milik pemerintah kabupaten Sumenep yang ikut menyiapkan karena penghijauan ini adalah bagian dari kegiatan CSR mereka. Setelah semua persiapan penanaman selesai, dan bibit diserahterimakan dari pihak bank ke kepala desa, rombongan langsung melakukan penanaman.

penghijauan2

Penghijauan  dengan tanaman cemara udang juga telah dilakukan di kawasan wisata pantai lainnya. Seperti di Pantai Slopeng dan Gili Labak. Cemara udang sebelumnya hanya dikenal di kawasan Pantai Lombang saja dan telah menjadi ikon pantai tersebut. Karena cemara udang mudah diperbanyak secara generatif dan mudah tumbuh di kawasan pantai, maka tanaman ini juga ditanam di pantai yang masih dirasa gersang dan butuh tanaman peneduh. Dengan adanya tanaman ini, kawasan pantai jadi lebih hijau, teduh, dan sejuk.

Baca Juga : Pesona Wisata Bahari di Madura

Tanaman cemara udang sangat cocok ditanam di kawasan pantai berpasir, karena selain untuk mencegah aberasi, juga untuk mengurangi pengikisan lapisan pasir oleh angin. Tau donk…angin di pantai kan kenceng banget. Nah..angin yang bertiup itu lama kelamaan mengikis pasir. Yang tadinya pasirnya tebal jadi tinggal sedikit kalau tidak ada tanaman pelindung seperti cemara udang.

Cemara udang menjadi pilihan paling tepat untuk penghijauan di kawasan pesisir karena relatif mudah perawatannya. Cukup disiram seperlunya saat awal- penanaman. Bila tanaman sudah kelihatan hidup, tanpa penyiraman pun tanaman itu bisa tumbuh sampai besar.

Buat yang mau tanam cemara udang di taman halaman rumah juga oke banget..Taman bisa jadi lebih indah dengan cemara udang yang sengaja dibentuk sesuai selera pemiliknya. Cemara udang ini  juga umum dijadikan bonsai.

Akhirnya setelah sekitar 2 jam, kegiatan penanaman untuk penghijauan di Pantai Sembilan selesai. Sebelumya kami juga pastikan dulu tanaman cemara akan tumbuh dengan baik dengan mengikat batang tanaman pada bilah-bilah bambu untuk mencegah tanamn tersebut roboh saat tertiup angin. Setelah semuanya beres…barulah kami bermain di Pantai Sembilan yang sedang hits itu. Kepala desa Bringsang telah mengelola kawasan pantai hingga menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Banyak selfie corner yang sengaja dibuat untuk memanjakan pengunjung.

Sampai menjelang senja kami di pantai tersebut. Tapi rencana bersunset ria gagal total karena matahari tertutup awan di ufuk barat. Tak apalah..yang penting kegiatan penghijauan lancar.. Semoga cemara udang yang ditanam bisa tumbuh dan membuat  Pantai Sembilan semakin sejuk dan indah.

Sumenep-Februari 2017

Pesona Wisata Bahari di Madura

 

Berwisata menikmati pesona alam Indonesia bisa dilakukan di banyak tempat. Perjalanan kali ini saya lakukan gak jauh dari tempat saya tinggal. Ya..saya beruntung tinggal di daerah yang begitu banyak tersedia pantai dan wisata bahari. Tinggal pilih mau kemana..dan memang gak perlu terlalu ribet persiapannya. Paling hanya baju ganti, alat mandi, snack dan minuman untuk bekal.

Gemana sih pantai-pantai di Madura? Hmmm…cantik dan unik juga lah… Ada 3 pantai yang sudah cukup dikenal di masyarakat lokal (setidaknya) yang letaknya di sisi utara kabupaten Sumenep.  Wisatawan bisa mengunjungi 3 pantai ini dalam sehari karena letaknya sejalur meski tak beredekatan. Marilah kita mulai menyusurinya satu persatu.

Pantai Slopeng. Ini adalah pantai yang sudah dikenal sejak puluhan  tahun silam. Pantainya berpasir putih bersih berhias pohon nyiur yang melambai-lambai dan pohon siwalan. Yang menjadi ciri khas dari pantai ini adalah pasir-pasir pantainya membentuk gunungan dengan ketinggian bervariasi, mulai 2 meter sampai lebih dari 5 meter.

Pantai ini terletak di pinggir jalan utama pantura Madura. Fasilitasnya juga relatif lengkap, mulai dari areal parkir, taman bermain, gazebo, panggung hiburan, tempat bilas, dan penjual makanan.

pantai slopeng1

Pantai Slopeng (dok.pribadi)

 

pantai slopeng2

Pantai Slopeng (dok.pribadi)

Pantai Badur. Kalau dari pantai Slopeng , untuk menuju ke Pantai Badur ini kita harus bergerak ke arah timur sekitar 30 km. Pantai ini juga tak jauh dari jalan utama Jl. Raya Batu Putih – Batang-batang.  Sesampai di Desa Badur, ada akses jalan paving ke pantai selebar 3 meteran.  Kendaraan bisa diparkir di pinggir jalan desa terebut atau dibawa masuk ke area pantai. Iyessss…mobilnya bisa masuk ke pantai yang landai dan luas banget.

Karena termasuk pantai yang baru dikenal masyarakat, pantai ini belum memiliki fasilitas seperti Pantai Slopeng dan Lombang.  Tempat parkir khusus memang belum tersedia, begitu juga fasilitas seperti tempat bilas dan penjual makanan belum banyak tersedia.

Yang khas dari pantai ini adalah 2 sungai air tawar yang mengalir deras di 2 sisi pantai. Perpaduan yang unik antara sungai, muara, dan lautan. Karena air tawar yang melimpah itulah..disekitar pantai juga terdapat petak-petak sawah yang  ditanami padi oleh petani sekitar pantai.

Pantai Badur

Pantai Badur (dok.pribadi)

 

Pantai Badur

Pantai Badur (dok.pribadi)

Pantai Lombang, ini adalah pantai yang paling populer di kalangan masyarakat. Pantai yang terletak di kecamatan Batang-batang ini mempunyai ciri khas pasir yang putih dan pohon cemara udang yang berjejer di sepanjang pantai. Berbagai fasilitas juga sudah cukup lengkap tersedia, seperti areal parkir, gazebo, tempat bilas, area bermain, panggung hiburan, dan penjual makanan-minuman.

Lombang1

Pantai Lombang

 

Lombang8

Pantai Lombang

Bagaimana untuk menuju ke  pantai-pantai itu? Karena belum ada transportasi umum yang bisa mengaksesnya, maka kendaraan pribadi adalah pilihan paling tepat, entah itu sepeda motor atau mobil..mau bawa truk atau bis juga boleh 🙂

Pulau Gili Labak, nah..ini nih..yang juga menjadi primadona wisata di Madura. Pulaunya bersih, penduduknya ramah. Di perairan sekitar pulau ini kita bisa bersnorkling. Iyaaa…di Madura ada tempat buat snorklingan!!! Hehe menurut teman-teman yang sudah pernah kesana, cukup layak untuk dikunjungi, begitupun menurut saya. Untuk menuju kesini kita harus menempuh perjalanan laut sekitar 2 jam dari pelabuhan Kalianget Sumenep. Waktu snorklingan yang pas diatas jam 9 pagi sampai menjelang jam 3 sore. Bagusnya sih ke pulau ini ya diluar musim ombak, yaitu sekitar bulan Maret-Juli atau September-November. Ketika saya melakukan perjalanan di bulan Agustus, ombaknya lumayan besar…meskipun masih cukup aman untuk dilalui. Spot-spot snorkling yang biasanya keliatan jelas…juga berkurang  kejernihannya. Tapi meski begitu Pulau Gili Labak ini tetap menarik untuk dinikmati.

Gili Labak5

Pulau Gili Labak

Under Water Gili Labak

Bersnorkling di Gili Labak

 

Hmmm…sesekali pengen juga bersnorkling di tempat lain, seperti di Derawan atau di Labuan Bajo NTT. Karena saya belum pernah ke dua tempat itu. Tau kan…kedua tempat itu punya daya tarik wisata bawah air yang luar biasa. Mudah-mudahan ya….ada rejeki dari Airpaz 😉

Labuan Bajo

Labuan Bajo (sumber : lepirate.com)

 

wp_ss_20160825_0019

jadi dapet tiket pesawat gratis untuk ke 2 tempat itu…atau salah satunya deh…  Pengennya sih bisa pake maskapai Nam Air ..kebetulan belum pernah nyobain 😉  Wah…bakal jadi momen unforgetable pastinya… doakan semoga terwujud ya…

 

CeritaAirpaz

Masukkan keterangan

 

Melihat Telaga Warna Dieng dari Bukit Sidengkeng

Sungguh Indonesia sangat kaya dengan tempat-tempat wisata alam yang unik dan menarik. Telaga Warna Dieng termasuk tempat wisata alam yang unik itu. Telaga ini berada di kawasan dataran tinggi Dieng atau Dieng Plateu di kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.  Dibilang telaga warna karena telaga ini memang seperti punya warna. Bisa hijau, kuning, atau perpaduan dari beberapa warna. Penyebabnya tidak lain adalah karena telaga ini mengandung senyawa sulfur atau belerang. Dengan luas 30 hektar lebih, ditambah adanya telaga Pengilon dan pegunungan yang mengelilingi kedua telaga tersebut, tentu lokasi indah sekali untuk dinikmati.

Saya ke Telaga Warna Dieng ini sepulang dari Sikunir dan desa Sembungan. (Baca : Sunrise di Sikunir). Kalau saat berangkat ke Sikunir saya tak bisa melihat apa-apa karena gelap. Nah..balik dari Sikunir barulah keindahan alam Dieng bisa saya lihat. Pegunungan yang mengelilingi Dieng, kebun sayur mayur, pohon carica yang berderet di tepi jalan, juga instalasi pembangkit listrik tenaga panas bumi Dieng bisa kita lihat di sepanjang jalur turun dari Sikunir ke Telaga Warna. Sebenarnya banyak tempat juga yang bisa dikunjungi, seperti Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Dieng Theatre. Tapi kami lewatkan semua lokasi itu..kami langsung ke Telaga Warna.

Dieng2

Pohon Carica dan Kebun Sayur

Ada banyak titik yang bisa dijadikan tempat menikmati Telaga Warna. Kalo saya melihatnya dari Bukit Sidengkeng di Wana Wisata Petak 9. Masuknya tepat di sebelah loket masuk Telaga Warna Dieng dan bersebrangan dengan tempat parkir kendaraan.  Pengunjung yang akan ke Bukit Sidengkeng ini wajib membayar tiket masuk sebesar 3000 rupiah per orang (tidak termasuk uang parkir ya..).

Oya…saat di tempat parkir ada ibu-ibu yang menawarkan masker untuk dipakai saat naik Bukit Sidengkeng. Karena katanya bau belerangnya tercium sangat kuat. Saya kebetulan bawa masker dari rumah, jadi ya..ga perlu beli lagi. Tapi kalo pas gak bawa..ya gak ada salahnya beli masker..jaga-jaga gak kuat sama bau belerangnya. Dan emang bener lah…baru masuk sekitar 50 meter dari gerbang aja…brenggggg…bau belerang udah berdesak-desakan masuk ke hidung. Tapi setelah naik lagi..ilang.. Ntar bau lagi.. Ya gitu deh..

Saya dan teman-teman tadinya mau masuk langsung ke Telaga Warna dengan harga tiket masuk 7000. Tapi karena ibu penjual masker itu juga memberi tahu kalau mau bagus pemandangan telaga warna nya dilihat dari Batu Ratapan Angin atau dari Sidengkeng, akhirnya kami batalkan masuk ke Telaga Warna. Pasti viewnya bagus dari bukit-bukit itu. Kami pilih Sidengkeng karena udah dekat, tinggal nyebrang aja dari parkiran.  Kalo ke Bukit Ratapan Angin harus ke arah Dieng Theatre lagi alias balik lagi, secara kami baru turun dari Sikunir kan… Ya daripada balik lagi keatas…  Beda viewnya kalo dari Batu Ratapan Angin…yang tampak depan adalah Telaga Pengilon, Telaga Warna jadi backgroundnya. Kalo view dari Bukit Sidengkeng…yang jadi background Telaga Pengilonnya.. Well….kami ambil Sidengkeng aja deh…dah di depan mata ini 😀

Yang khas dari Wana Wisata ini kalo menurut saya sih tanaman Hortensia. Bunganya bergerombol besar dengan warna yang cantik-cantik. Katanya sih Wana Wisata Petak 9 ini memang dirancang untuk menjadi pusat koleksi tanaman endemik Dieng. Tapi mungkin memang belom selesai pengerjaannya…jadi yang menonjol lebih banyak tanaman rumputnya.. hehehe.

Dieng1

Bunga Hortensia

Jalanan menuju atas bukit juga belum seluruhnya dipaving seperti di sekitar gerbang masuk. Jalannya masih berupa karung pasir yang disusun gitu aja. Ya sebenarnya jalan tanah aja gak masalah sih..namanya juga wisata alam. Tapi memang kawasan Dieng ini sepertinya lagi berbenah, memperbaiki segala fasilitas demi memanjakan pengunjung. Jalanan di tempat-tempat wisatanya dipaving semua, termasuk jalan menuju bukit Sikunir. Cakep juga sih…kesannya bersih banget dan rapi. Salut buat wisata Jateng (ini komentar tulus bukan karena dibayar loh 😀 ).

Dieng3

Perjalanan di Bukit Sidengkeng

 

IMG-20160809-WA0001

No Caption 😀

Di Wana Wisata Petak 9 sebenarnya tersedia camping ground, rumah pohon, dan sarana buat foto-foto lainnya. Tapi karena rumputnya rimbun untuk ke camping ground dan rumah pohon..ya kami gak mampir kesitu. Lanjut terus lah sampe separuh perjalanan ada tempat yang agak lapang dan tersedia tempat foto-foto di atas pohon.  Cukuplah foto-foto disini. Ya…maklumlah…setelah turun dari Sikunir ditambah belum tidur sejak berangkat dari kota masing-masing, kayaknya kami udah capek aja melanjutkan perjalanan ke atas sampai puncak bukit. Gak papa lah…udah sampe di setengah bukit Sidengkeng aja dah cukup dan gak merasa rugi kok. Pemandangannya cakep..bisa lihat Telaga warna sama Telaga Pengilon di belakangnya.  Cuaca cerah pagi itu ..jadi tak ada kabut yang menghalangi pemandangan dari Bukit Sidengkeng ke Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Dieng4

Telaga Warna Dieng dengan Latar Belakang Telaga Pengilon

Setelah puas berfoto…kami putuskan untuk turun saja, padahal masih sekitar 200 meteran lagi ke puncak bukit. Kami pengen cepet-cepet istirahat di Magelang atau di Jogja, karena  besok paginya masih ada rencana ke Punthuk Setumbu. Nanjak lagi kan itu? 😀 😀

Sunrise di Sikunir

Diantara sekian banyak daerah dengan kategori dataran tinggi di Pulau Jawa, adalah desa Sembungan yang tingginya sekitar 2300 mdpl. Inilah desa tertinggi di Pulau Jawa. Disusul kemudian desa Ngadas di Poncokusumo kabupaten Malang (2150 mdpl). Desa Sembungan berada di kawasan dataran tinggi Dieng kabupaten Wonosobo.

Saya berkunjung ke desa yang berada di kaki bukit Sikunir ini lewat Solo-Boyolali-Magelang-Temanggung. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan dari Solo untuk menuju ke daerah yang terkenal juga dengan Telaga Warna nya ini.

Jalan menuju kawasan Dieng relatif bagus meski sempit. Dengan penerangan jalan dan marka jalan yang sangat minim, perjalanan pada malam hari sampai menjelang pagi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Apalagi bila kabut mulai turun.

Perjalanan ke kawasan Dieng ini hampir sepenuhnya kami mengandalkan petunjuk neng google map. Meski sesekali suaranya memberikan petunjuk sinyal yang tidak mendukung, akhirnya sampai juga di pintu gerbang kawasan Dieng.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, ada 2 petugas yang standby di loket dan siap memberikan peta dan menarik retribusi per orang 10.000 rupiah. Dari sekian banyak tempat yang bisa dikunjungi, kami memilih Sikunir sebagai tujuan pertama. Tujuan lainnya bakal kami sambangi setelah dari Sikunir.

SIKUNIR13

Tiket Masuk Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Karena sinyal semakin enggan membantu neng google map memandu perjalanan kami, akhirnya ya kami murni mengandalkan peta yang diberikan petugas loket tadi. Yahh..sambil celingak celinguk dan lirik peta untuk memastikan kami berada di jalur yang benar.

Semakin mendekati desa Sembungan, jalanan mulai rusak. Karena tidak melihat rambu penunjuk jalan dengan jelas dan tak ada orang yang bisa kami tanya..sempat kami pikir kami kesasar. Tapi setelah meneruskan perjalanan dan melihat kumpulan titik cahaya..kami yakin jalan kami benar. Dan alhamdulillah memang benar, kami sampai juga di Sembungan.

Desa ini mengingatkan saya pada desa Ranu Pane di kaki Semeru. Kalau di Ranu Pane terdapat 2 telaga, di Sembungan terdapat 1 telaga di tengah desa yang luasnya sekitar 12 hektar, yaitu Telaga Cebong.

Di desa berpenduduk 1400 an jiwa ini sudah tersedia fasilitas home stay, tempat parkir umum yang luas, toilet, toko-toko souvenir dan perlengkapan pelindung hawa dingin, juga warung makanan.

Tampaknya yang berniat untuk bersunrise ria di bukit Sikunir banyak juga. Buktinya parkiran sudah hampir penuh dengan mobil pengunjung, dan masih terus berdatangan. Pengunjung yang akan naik ke Sikunir..bayar retribusi dulu ya…10.000 per orang.

SIKUNIR14

Tiket Sikunir

Petunjuk untuk menuju bukit Sikunir cukup jelas dan jalan selebar 3 meter juga sudah berlapis beton. Jalannya menanjak terus dah…dengan sesekali bonus jalan datar. Etapi itu cuma sekitar 200 meter awal perjalanan aja ya… 😀 karena setelah itu jalannya ya jalan tanah…trekking seperti naik gunung biasanya itu lah… Klo petunjuknya sih sekitar 800 meter jalan trekking yang dominan tanjakan untuk sampai ke puncak.

Jalannya emang gak mudah untuk kategori wisata santai sih…Apalagi jalannya kan gelap..dan sedikit sisa hujan bikin jalanan agak licin. Ya harus ekstra hati-hati. Dan ada banyak persimpangan jalur.. Ntar ketemunya jalurnya sih sama aja..

Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai puncak bukit Sikunir ini, jadi saat sampai di puncak masih gelap. Di kawasan puncaknya banyak puncak-puncak punggungan yang menjadi pilihan pengunjung menyambut momen terbitnya matahari. Eh ada warung dan musolla juga loh.. Ya alakadarnya…yang penting pengunjung masih bisa solat subuh.

Tak lama setelah sampai di puncak, terdengar kumandang azan dari arah kaki bukit. Kemudian ada warga yang mengingatkan dengan pengeras suara “bagi yang belum solat subuh…silahkan solat dulu…disini tersedia musholla… Ayo yang belum solat subuh…silahkan solat.. Air wudunya juga tersedia..”

Waktunya pas kok…setelah solat subuh…tak perlu menunggu lama..perlahan langit pun memerah di ufuk timur. Lekukan alam yang menghampar di bawah sana mulai terlihat jelas. Disini bukit..disana bukit,di kanan gunung.. Indah sekali. Rasa lelah setelah melalui tanjakan sepanjang 800 meter..hilang begitu saja. Rasa kantuk karena belum tidur..sirna disapu bentangan alam yang menakjubkan di depan mata. Hawa dingin..ahhh dinikmati saja lah… Morning has broken….dan seluruh permukaan puncak berwarna kuning seperti kunyit/kunir tertimpa sinar matahari. Sesuai dengan namanya..Sikunir.

SIKUNIR6.jpg

Sunrise di Sikunir

 

SIKUNIR5.jpg

Sunrise di Sikunir

 

SIKUNIR7.jpg

Menunggu Sunrise

 

SIKUNIR2.jpg

Menunggu Sunrise

SIKUNIR8.jpg

Ada warung di Sikunir

 

Setelah matahari sempurna menyinari puncak Sikunir..barulah kami turun lewat jalur berbeda. Katanya sih lebih landai. Tapi sebelum turun kami menyempatkan mengisi perut di warung yang ada di sekitar puncak. Lumayan..ada gorengan tahu dan tempe kemul dan minuman hangat di tengah hawa dingin yang mulai terasa. Iyaaa giliran mataharinya mulai tinggi malah dinginnya terasa…

Oke…perut sudah sedikit terisi…lumayan buat energi turun bukit ..*halahh* Dan ternyata olalaaaa jalur yang katanya lebih landai…hmmmm…curam bangetttt..dan kami harus lebih ekstra hati-hati… Karena selain curam, jalurnya sangat sempit..seperti tangga batu..kanan tebing kiri jurang. Tapi dari jalur ini..kami bisa melihat pemandangan yang mungkin tidak bisa dilihat di jalur berangkat.. Dan alhamdulillah nyampe juga…

SIKUNIR9

Jalur Turun Sikunir

 

SIKUNIR10.jpg

Jalur turun, tampak di bawah adalah Telaga Cebong di desa Sembungan

 

SIKUNIR3

Jalan yang sudah berpaving

Energi dari gorengan dan minuman hangat saat di atas bukit Sikunir tampaknya sudah habis..dan kami tak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi olahan kentang yang sebenarnya sudah ditawarkan pedagang sejak berangkat.

SIKUNIR11.jpg

Di kaki Sikunir

Kentangnya kecil-kecil,warga menyebutnya kentang rindil. Tanpa dikupas..kentang dimasak dan dibumbu semur atau kare.. Ehhmmhhh rasanyaaa..maknyusss..dimakan aja sama kulitnya gitu. Enak banget. Satu kotak 5.000 saja. Cocok untuk santapan pagi..diantara dinginya angin pegunungan yang berbaur dengan hangatnya sinar mentari pagi.

SIKUNIR12.jpg

Kentang Rindil Bumbu Semur

Ada juga yang memesan nasi jagung . Ahh saya pikir nasi jagung mah..makanan sehari-hari saya di rumah. Setelah melihat yang dimakan teman saya..oowhh ternyata beda. Jagungnya warna putih..dan lebih halus remahannya. Disantap bareng sayur urap, ikan asin goreng tepung, dan sambel.. Ohhh itu enaknya paten banget.. Sama aja sih…harganya juga 5000 sajahh. Seneng deh di tempat wisata kalo harga kulinernya masih wajar kayak gitu.

SIKUNIR4.jpg

Nasi Jagung Sikunir

Setelah menyelesaikan santapan ringan di halaman sebuah kafe di jalur turun dari bukit Si Kunir..kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Perlahan meninggalkan kawasan desa tertinggi di Jawa…menuju lokasi berikutnya. Telaga Warna Dieng.

Pantai Lombang, Pantai Paling Indah di Madura

Inilah pantai paling indah di Madura. Pantai Lombang namanya. Pantai Lombang sudah lama dikenal oleh masyarakat lokal dan luar Madura. Pantai yang terletak di timur laut kabupaten Sumenep ini memiliki ciri khas pasir putih yang halus dan deretan pohon Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) di sepanjang pantainya.

Lombang4.jpg

Untuk menuju ke pantai ini dari kota Sumenep dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Pengunjung harus membayar tiket sekitar 3000 sampai 10.000 per orang. Biasanya hanya pengunjung dewasa yang dikenakan biaya tiket.

Beberapa kali saya mengunjungi pantai ini, paling enak sih menjelang sore. Karena tidak terlalu panas, semakin lama semakin adem… Bisa juga pagi banget. Cuma ya makin lama makin panas 😀 Meskipun tergolong pantai yang aman-aman saja alias tidak berbahaya seperti pantai-pantai di wilayah selatan Jawa, pengelola tetap memasang tanda peringatan dan batas aman bermain di pantai. Buat jaga-jaga….

Lombang 3.jpg

Yang perlu diwaspadai juga adalah ubur-ubur yang kadang muncul. Tahu donk ya…kalau sampe tersentuh binatang laut tak bertulang ini akibatnya apa… 🙂  Minimal kulit panas dan gatal-gatal dalam waktu yang lumayan lama..

Banyak fasilitas yang tersedia di pantai yang landai ini. Mulai parkir mobil dan sepeda motor, musholla, tempat bilas, area bermain anak-anak, gazebo, dan panggung hiburan. Selain bermain air di pantai, pengunjung bisa naik perahu (5.000 per orang) atau naik kuda (10.000 per kuda).

Lombang1.jpg

Lombang 2.jpg

Lombang7.jpg

Lombang8.jpg

Tak heran bila fasilitas di pantai ini termasuk sangat lengkap dibanding pantai lainnya di Madura. Karena pada waktu tertentu, pantai ini menjadi pusat kegiatan warga Madura. Seperti saat Lebaran Ketupat (seminggu sesudah Idul Fitri). Warga berbondong-bondong ke pantai ini dari pagi hingga sore. Jadi sudah bisa dipastikan akses menuju pantai ini macet total.

Bila pengunjung tak membawa bekal makanan dan minuman tak perlu khawatir..Karena di sekitar pantai banyak penjual makanan dan minuman. Salah satu menu khas daerah ini adalah rujak dan kelapa muda, pas dengan suasana pantai yang panas. Sepulang dari pantai ini, pengunjung kadang membeli bonsai Cemara Udang sebagai oleh-oleh atau cinderamata.

Ayo..main ke Pantai Lombang…!!