Bunda..Temanku Belajar Naik Motor..

Anak-anak setiap hari selalu menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya di sekolah. Saya selalu senang mendengar cerita mereka. Mulai dari digojlok teman-temannya…teman-temannya yang gak masuk sekolah siapa saja…menu makan siang teman-temannya..atau bahkan ketika diejek teman-temannya. Mereka menceritakan semuanya dengan sangat antusias dan ekspresif.

Termasuk ketika Nares menceritakan tentang temannya yang belajar naik motor.

“Bunda temanku tadi belajar naik motor..”

“belajar gemana?”

“Ya…gitu… waktu pulang sekolah si Vince (nama samaran) di depan…pegang setirnya…ayahnya di belakang jagain”

Ohh My God.. anak masih kelas 3 SD kok sudah diajarin naik motor..??

“Aku kapan belajar naik motor?”

Hahaha waduh…

Ya akhirnya saya harus meluruskan pada Nares tentang kapan sebaiknya belajar naik motor.

“Gini kak…naik motor itu harus punya SIM…Surat Ijin Mengemudi… semua yang nyetir motor atau mobil harus punya itu…buat suratnya di kantor polisi..itu yang deket sekolah kakak…”

Sambil lalu saya menunjukkan SIM C saya ke Nares..

“Untuk dapet SIM kayak gini ..umurnya harus 17 tahun. 17 tahun itu kalo sekolahnya udah SMA mungkin kelas 2..”ehhh saya gak update kalo sekolah SMA sekarang kelas berapa belas ya 😀 😀

Nares menyimak dengan baik penjelasan saya..Alhamdulillah..

“Kenapa harus pake SIM segala..”

“Ya kalo ada apa-apa udah harus tanggung jawab sendiri kak…kalo melanggar gak pake helm..nerobos lampu merah..bisa kena tilang..kalo kena tilang SIM nya bisa diminta sama polisinya..gak bisa naik motor lagi kan kalo gak pegang SIM?”

Cukup sekilas aja penjelasannya… 🙂  sebelum pertanyaannya semakin sulit dijawab dengan bahasa anak-anak…hehehe…Saya hanya meminta Nares tidak perlu ikut-ikut temannya belajar naik motor seperti itu. Belum waktunya.

Saya sendiri gak habis pikir bagaimana para orang tua mengajarkan naik motor sedini mungkin.. 🙂 Seberapa penting?Menurut saya gak penting banget.. .apapun alasannya.  Termasuk para orang tua yang membiarkan anak-anaknya yang masih usia SD dan SMP bebas naik motor di jalanan. Kebanyakan malah gak pake helm..lampu merah diterobos..ugal-ugalan. Apalagi pake motor matic yang masih kinyis-kinyis…duh..duh…

Padahal kalo terjadi sesuatu (kecelakaan misalnya..) dan menyebabkan hilangnya nyawa orang lain…anak bisa dikenakan pidana penjara maksimum 3 tahun (UU Nomer 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Pasal 26 ayat 1). Jumlah 3 tahun itu separohnya ancaman pidana orang dewasa  seperti yang tertulis di  UU.No.2 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 310 ayat 4. Ancaman pidana ini gak bisa digantikan ke orang tuanya.

Nah tega gak tuh? Kalo gak tega …Ya harusnya jangan tega juga melepas anak dibawah umur  naik motor.. Ya nggak sih?

Advertisements

8 thoughts on “Bunda..Temanku Belajar Naik Motor..

  1. Paling sebel kalau ada anak piyik2 naik motor. Ortunya gmn to yaaaa… saya aja baru diajarin saat SMA sama bapak saya.
    Keliatannya sih ortunya sayang, pas ngajarin naik motor, tapi gak sadar malah justru mencelakakan. Kudunya polisi menindak tegas dan kalaupun ditilang, yg dihukum ortunya.

    • Geregetan banget mbak liat anak-anak bawa motor..sambil becandaan di jalan sama temen lainnya yang juga naik motor.. Kalo tilang ya sudah pasti yang bayar dendanya ortunya..tapi kalo penjara gak bisa digantikan ortunya..

  2. Iya mbak, saya juga gak habis pikir, kenapa para orang tua itu, mengijinkan anak di bawah 17 tahun bawa motor? Supaya dibilang keren, gitu? haduuh..!
    Yang ada malah membahayakan orang lain dan tentu saja membahayakan anaknya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s