Brau Tracking Adventure

Akhirnya …atas izin Allah..saya berkesempatan untuk bersilaturahmi ke Brau. Brau adalah desa kecil di lereng Gunung Banyak, kecamatan Gunungsari Kota Batu Jawa Timur. Sebenarnya cuma pengen bertemu dengan mbak Yuli dan melihat langsung pemanfaatan limbah sapi perah di desa itu. Tapi rupanya mbak Yuli tidak rela kalau saya tidak mencicipi Brau Tracking Adventure.

Posko di Brau

Posko di Brau

Widihhh..kayak apa sih sih Brau Tracking Andventure? Malam hari ketika sampai di posko Yayasan Alam Bumi Lestari tempat mbak Yuli tinggal di Brau, saya cuma diberitahu kalau besok pagi kita lihat sunrise di Gunung Banyak. Gunung Banyak adalah tempat start wisata paralayang yang sudah sangat populer di Kota Batu. Hmmm..tempat paralayangnya sih kurang menarik buat saya..tapi sunrise nya itu…membuat saya tak bisa menolak.

Jadilah pagi buta sesaat setelah adzan subuh berkumandang, saya dan 5 orang lainnya (mbak Yuli, Eni, mas Uconk, mas Imam, dan mas Budi) bersiap-siap untuk tracking adventure sekaligus summit attack..Eh bener loh..sensasinya kayak kita mau muncak di Semeru gituh… 😀 Abaikan rasa kantuk karena kami baru tidur jam 12 malam. Abaikan hawa dingin yang menusuk tulang. Berangkaaattt!

1 km pertama ya jalan menyusuri jalanan aspal selebar 3-4 meter. Dominan nanjak lah yaaaa…. Hiksss..Yah hiburannya siluet-siluet pegunungan yang mulai kelihatan karena matahari akan segera terbit..udara dingin tak lagi mengganggu..karena terkalahkan oleh panasnya kalori yang terbakar. Ngos-ngosan?Ya iyalah… 😀 tapi tetep ya..kudu jalan terus..meski slow dan menjadi sweeper (jalan paling belakang).

Setelah jalan mulai mendatar..mestinya saya mulai menikmati jalan agak cepet..Tapi rupanya gak lama..karena teman-teman di depan berbelok ke arah kiri..melewati jalur yang nyaris tegak lurus, berumput tinggi.

“Kita lewat sini…jalan pintas kalau mau cepat sampai” seru salah satu teman.

Haiiisss..saya udah geleng-geleng kepala ajah…tapi daripada muter.. lumayan selisih jaraknya. Menaiki jalur ini paling Cuma 20 meter..kalo muter…ada kali 200 meter. Ya sudahlah…tancaaappp..Ngos-ngosannya berapa kali lipatnya ketika jalan tadi..hohohoho…ini baru namanya tracking..pendek tapi menyiksa… 😀

Ini dia jalurnya...

Ini dia jalurnya…

Etapi perlahan tapi pasti…nyampe juga ke jalan utama. Persis kayak kita melewati potongan garis tengah sebuah bangun datar berbentuk oval. Jalan utama nya tak jauh dari gardu tiket masuk ke kawasan paralayang. Sedikit berjalan, kami mengambil arah kanan. Sementara kalau ambil arah kiri itu jalur konvensional menuju area paralayang. Hohoho…lagi pada gak doyan jalan konvensional ini ceritanya..

Meski bukan jalan konvensional, jalan yang kami lewati ada bekas-bekas dilewati kendaraan. Setelah berjalan sekitar 50 meter, jalan menyempit dan hanya tersisa 50 cm saja . Lalu teman-teman yang ada di depan kembali melipir ke arah kiri dan mulai lagi potong jalur menuju ke puncak Gunung Banyak. Hahaha..ini lebih susah dari yang tadi..karena rumputnya masih padat, kami juga berjalan dengan pola zigzag. Lama gak beginian agak ngeri juga sih…gemana coba kalo kepleset trus…aahhhh sudahlah…konsentrasi jalur ke atas dan jangan liat ke bawah..

Chiiissss dulu...

Chiiissss dulu…

“Mbak …I think its better to pass the conventional route..” saya bilang ke mbak Yuli sambil terengah-engah..

“Anything you want Ayank..” jawab mbak Yuli sambil senyam senyum lihat saya yang kewalahan melewati jalur tracking ini.

Kira-kira beberapa meter lagi sampai ke puncak..matahari udah gak sabar pengen melihat kami-kami ini terengah-engah menuju puncak. Yap..matahari terbit sebelum kami sampai di puncak..Morning has broken! Sebentar-sebentar kami menikmati indahnya lukisan alam dengan cahaya keemasan. Masih menyimpan rasa takut untuk menoleh ke arah bawah…saya terus lanjut untuk sampai ke puncak yang sudah ramai oleh beberapa orang pemuda-pemudi. Hahaha…mereka pada rasan-rasan kali ya…ni orang-orang tua pada dari mana…tiba-tiba muncul dari bawah…

Morning has broken...

Morning has broken…

Sampai di puncak yang tidak lain adalah tempat wisata paralayang..Subhanallah…cakep bener….pemandangannya..Seperti biasa..kalo sudah sampe puncak begini…lupa sama sekali dengan ngos-ngosan yang tadi. Yang terasa Cuma happy aja. Rasanya kerinduan saya pada puncak gunung dan hutan belantara…terobati sudah. Tak sempat ke Bromo..semeru..Gunung Banyak pun tak apalah… 😀

Lupa deh sama ngos-ngos-ngosan tadi... :)

Lupa deh sama ngos-ngos-ngosan tadi… 🙂

Karena saya harus sampai di Malang jam 8 pagi, sementara jam sudah menunjukkan jam 6 lewat beberapa menit, kami tak berlama-lama di tempat itu. Paling 30 menitan. Langsung turun dan kembali ke desa Brau. Totally kami lewat jalur konvensional..jalannya datar sih…banyak turunnya..tapi ya emang selisih jaraknya kerasa banget dan ngefek ke waktu tempuh..

Balik ke Brau

Balik ke Brau

Sampai di posko..saya langsung bersih-bersih badan  dan bersiap kembali ke Malang. Sebelum balik…makan pagi dulu….menu makan pagi yang mirip dengan yang pernah saya nikmati di rumah warga di Ranu Pane beberapa tahun silam… kentang dilodeh pedes… Alhamdulillah…

Menu makan pagi yang maknyusss

Menu makan pagi yang maknyusss

Semoga bisa kembali menikmati semuanya suatu saat nanti… 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Brau Tracking Adventure

  1. Aku, aku!! Aku pernah ke gunung Banyak, Mak. Tapi waktu itu masih kuliah dan ikut acara di tempat petirahan anak terbesar di Jatim. Sayangnya, ngga sunrise sih waktu ke sananya.. Jadi ga lihat matahari yg uhuy itu..

  2. Pingback: 2015 My Work My Adventure | dianesuryaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s