From Hongkong To Brau

Hongkong…siapa yang tak tahu. Salah satu tujuan wisata favorit di Asia yang gemerlap dan modern. Kalo Brau.. adakah yang tahu? Brau adalah dusun kecil di Kota Batu Jawa Timur. Nyari di Google aja susah kalau cuma ngetik Brau Batu Jawa Timur 🙂 Apa hubungannya Hongkong dengan Brau?

Warga dusun Brau desa Gunungsari kecamatan Bumiaji kota Batu adalah petani dan peternak sapi perah. Ada problem serius terkait limbah yang berasal dari kotoran sapi perah di dusun tersebut (dan dusun lain di sekitarnya). Selama bertahun-tahun limbah kotoran sapi dibuang ke sungai. Bukan cuma kotor, tapi sungai juga bau semerbak khas kandang sapi.

 Gas metana terjadi secara alami sebagai akibat dari berbagai reaksi biologi dan kimia. Ini berasal dari produk limbah manusia, limbah pertanian dan limbah pertanian dengan produk melalui proses pembusukan anaerobik. Sapi bertanggung jawab atas 16% dari emisi metana di atmosfer.

Ada sebuah yayasan non profit dan non partisan, Yayasan Alam Bumi Lestari alias Yabule…yang kemudian melihat kondisi ini kalau dibiarkan terus berlangsung dampaknya tentu akan sangat merugikan. Bukan hanya bagi warga Brau, tapi juga warga lain yang dilintasi sungai, termasuk Sungai Brantas bagian hilir yang menjadi muara anak sungai di kawasan Jawa Timur.

Salah satu sudut dusun Brau - 1.120 mdpl (dok Yabule)

Salah satu sudut dusun Brau – 1.120 mdpl (dok Yabule)

Apa yang dilakukan yayasan yang beranggotakan anggota pasca aktif Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam Unibraw ini di Brau?Salah satunya adalah membangun instalasi atau reaktor biogas. Widiihhh reaktor…macam nuklir ajah pake reaktor 😀 Bedanya sama yang nuklir…. reaktor ini menampung kotoran sapi milik (sebagian) warga Brau.

Ini lo...reaktor biogasnya.. (dok. Yabule)

Ini lo…reaktor biogasnya.. (dok. Yabule)

Salah satu tahapan pembuatan reaktor (dok. Yabule)

Salah satu tahapan pembuatan reaktor (dok. Yabule)

Nah kotoran sapi itu menghasilkan energi yang bisa dipakai untuk bahan bakar dan listrik. Jadi….kotoran sapi yang tadinya dibuang begitu saja ke sungai..diolah menjadi sumber energi baru. Warga Brau yang konsumtif (karena harus terus menerus belanja bahan bakar), sekarang jadi warga yang produktif. Kenaikan dan kelangkaan gas pun bukan masalah buat warga Brau.

Biogas untuk memasak (dok. Yabule)

Biogas untuk memasak. Ini pada pake masker bukan karena bau dari biogasnya ya…. Tapi karena foto diambil saat peresmian program biogas sehari setelah G.Kelud meletus.(dok. Yabule)

Biogas untuk listrik (dok. Yabule)

Biogas untuk listrik (dok. Yabule)

Tak cukup itu saja…ampas kotoran sapi dari limbah biogas pun masih bisa dimanfaatkan. Haaaahh? Masih ada yang bisa dimanfaatkan??Iyaaa…!Ampas yang disebut bioslurry itu dijadikan pupuk organik oleh warga daaannn menjadi pakan untuk ternak cacing. Mancyeeeeppp…..

Anak-anak di Brau semangat beternak cacing (dok. Yabule)

Anak-anak di Brau semangat beternak cacing (dok. Yabule)

Tanaman sayur kiri memakai pupuk bioslurry, kanan memakai pupuk kandang (dok. Yabule)

Tanaman sayur kiri memakai pupuk bioslurry, kanan memakai pupuk kandang (dok. Yabule)

Lahhh trus hubungannya ama Hongkong apaah??Bioslurry nya diekspor ke Hongkong?Bukaaannn… Sapinya dari Hongkong?Bukaaannn…Bukannn..

Adalah seorang perempuan berusia 47 tahun yang diutus oleh Yayasan Alam Bumi Lestari untuk menjadi pimpinan proyek kegiatan ini (tapi yang bersangkutan lebih sreg disebut fasilitator sajah… 🙂 ). Setelah berjuang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan dan Hongkong sejak tahun 1998, akhirnya perempuan asal Malang ini kembali ke Indonesia per 2013 dan bersedia menjadikan Brau sebagai medan perjuangannya yang baru. Namanya Yuli Sugihartati Iskak, saya biasa memanggilnya Mami Yuli atau Mbak Yuli. Meski sama-sama anggota pasca aktif Impala Unibraw, saya baru kenal Mbak Yuli dan aktif berinteraksi sekitar tahun 2011 an lah…waktu dia masih di Hongkong. Mbak Yuli sekarang tinggal di Blitar. Minimal 2 hari sekali berkunjung ke Brau (kadang menginap di Brau). Dengan senang hati Mbak Yuli melakukan perjanalanan Blitar – Brau dengan sepeda motor (kurleb 50 km). Termasuk saat musim hujan seperti sekarang ini. Heroik! *Love what you do and do what you love katanya*

Mbak Yuli at Hongkong (dok. Mbak Yuli)

Mbak Yuli at Hongkong (dok. Mbak Yuli)

Mbak Yuli at Brau (dok. Mbak Yuli)

Mbak Yuli at Brau (dok. Mbak Yuli)

Mbak..mau-maunya bergumul dengan kotoran sapi di Brau…Apa yang ‘memanggilmu’? Hmmm…Mbak Yuli jawab begini, “kalau awalnya sih karena euphoriaku bisa kerja breng temen-temen IMPALA, trus pas terjun langsung ke Brau ternyata panggilan jiwa untuk berbagi bisa terakomodir, walau yang aku bagikan bukan materi, tepi lebih ke sharing knowledge”

Waw..saya terkesima dengan jawabannya.. Emang ilmu apa ya yang dibagi sama Mbak Yuli? Ilmu yang sangat sederhana sih katanya… Mulai dari ngobrol-ngobrol masalah biogas dan tentang dasar-dasar ilmu peternakan. Oh iya…Mbak Yuli ini alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya..Alhamdulillah kalo ilmu di kampus dulu masih bisa bermanfaat untuk warga di Brau ya…

“Brau sudah jadi candu buat saya…” begitu jawab Mbak Yuli waktu saya tanya betah nggak di Brau… Wahhh sampe candu gituh?Yang bikin kecanduan itu apa sih…

“Buanyak sih, tapi yang paling bikin betah itu kesediaan mereka menerima saya. Lebih ke humanity-nya. Alamnya juga ciamik, bikin adem di hati. Kami sudah saling membutuhkan Yank..” (maksudnya Yank itu Ayank…panggilan saya di kalangan teman dan saudara.. 😀 *pentinggg*).

Datang dengan menawarkan program biogas tidakkah mendapatkan penolakan?Pastiiii…! Awalnya ya menolak tapi tidak langsung. Rupanya mereka kapok dengan program biogas sebelumnya entah dari mana. Waktu itu (tahun 2013) ada 7 bangkai biogas di wilayah Desa Gunungsari, termasuk di Brau, yang ditunjukkan oleh warga.

Saya juga nanya..gak pengen balik ke Hongkong yang bling-bling dan bikin ngiler itu? Perbandingan Hongkong dengan Brau itu sangat njeglek banget loh ya.. (kayak yang pernah ke Hongkong ajah….hahaha). Mbak Yuli dengan tegas menjawab ‘TIDAK’. Sama sekali tidak ada keinginan untuk kembali ke Hongkong. Justru keinginan terbesar Mbak Yuli sekarang adalah memberdayakan teman-teman di Hongkong supaya survive di negeri sendiri. Ia paham ketakutan teman-temannya untuk kembali ke tanah air. Itulah sebabnya sekarang Mbak Yuli mencoba semua peluang usaha yang sederhana, mudah dikerjakan, dan semua orang bisa. Dengan harapan, apa yang dilakukannya bisa memotivasi teman-teman TKW untuk mengikuti langkah-langkah survival Mbak Yuli di tanah air. Diakui Mbak Yuli bahwa itu mimpi besarnya.. Duh kebayang gak sih…kalo ribuan TKI di luar sana balik ke Indonesia dan bersedia membangun negeri ini…

Trus untuk Brau..apa yang diinginkan? Katanya…sekarang ada 8 reaktor aktif di dusun Brau dengan jumlah warga 60 KK. Idealnya 1 KK 1 reaktor kapasitas 6 meter kubik dengan jumlah ternak sapi 2-3 ekor. Masih banyak kan kekurangan reaktornya… 🙂 Selain mengusahakan dana (10 juta per reaktor), ada keinginan untuk membuat arisan reaktor. Keren iihhh arisannya…Arisan yang bermanfaat buat bumi 🙂 Cuma masih ada kendala … warga masih banyak tanggungan cicilan di KUD dan beberapa kendala teknis lainnya. Bioslurry juga sedang diupayakan untuk bisa dijual untuk kebutuhan masyarakat di luar Brau.

Duh Mbak…semoga Mbak Yuli semakin betah berkegiatan di Brau ya…Semoga mimpi-mimpinya terwujud..termasuk mimpi tentang TKW tadi… Daaannn semoga semakin banyak kegiatan-kegiatan semacam ini di tanah air…

 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Blog Nurul Hayat : Nyala Inspirasi Untuk Negeri

Advertisements

6 thoughts on “From Hongkong To Brau

  1. Pingback: Brau Tracking Adventure | dianesuryaman

  2. Pingback: Mendadak Piknik Itu Asik | dianesuryaman

  3. Pingback: Mendadak Piknik Itu Asik – D I A N E S U R Y A M A N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s