Berterima Kasih pada Ipin – Upin

Ketika banyak orang tua yang melarang anaknya nonton tv, maka saya termasuk yang belum bisa melarang anak-anak nonton tv. Saya baru bisa membatasi saja. Dalam hal pilihan acara dan jam nonton. Ada beberapa tayangan saya larang anak-anak untuk melihatnya. Alasan utama saya adalah tayangan tersebut tidak memberikan pelajaran yang baik untuk anak-anak. Termasuk acara yang sebenarnya dibuat untuk anak-anak.

Kalau pun ada tayangan berlabel “untuk semua usia” saya atau kakung dan eyangnya mendampingi untuk memberikan penjelasan tentang beberapa bagian dari tayangan tersebut.

Tontonan yang paling digemari anak-anak saya adalah Upin dan Ipin. Duh…filmnya diulang udah sampe berapa ratus kali masih aja disimak dengan serius. Gak ada bosen-bosennya anak-anak liat Upin-Ipin.

Saya sih sama sekali gak keberatan untuk tontonan yang satu ini. Karena saya sendiri menyimak dan merasakan tayangan ini sangat kaya dengan muatan yang mendidik. Film ini menggambarkan keberagaman dan kerukunan. Ada tokoh dari India, Indonesia, Melayu, Tionghoa. Saya juga kagum sekali dengan pembuatnya yang berhasil mempromosikan produk-produk nasional mereka secara halus ke dalam film ini.

Pernah suatu kali Nares minta dibuatkan beras yang dibungkus dari tanaman apa…gitu (dia lupa namanya). “Seperti yang di Ipin-Upin tu Bunda….”. Ketika serial film yang dimaksud Nares itu tayang lagi..dia pun menunjuk masakan yang dimaksud, ketupat kantong semar. Oh My God…dapat manaaaa kantong semar…. Ya jadinya saya belum bisa memenuhi keinginan Nares untuk dibuatkan ketupat dari kantong semar…

Pernah suatu ketika berbisik,”Bunda aku mau jualan online..” Saya kaget juga dengernya. “Ntar uang hasil jualannya aku masukin celengan…trus kalo udah banyak..aku masukin ke bank..trus aku punya kartu…” Wiissss…keren banget permintaan anak sulung saya ini, dari mana idenya…. “Seperti Ipin-Upin tu Bun…..” Oalah nak….okelah kalau begitu…saya buatkan Nares celengan dari toples bekas yang transparan. Persis seperti yang di Ipin-Upin. Nah di serial yang dimaksud ini, ceritanya Ipin -Upin (dan seorang temannya) menabung di bank syariah lokal Malaysia Hong Leong. Promosinya dapet banget! Si Ipin-Upin diharuskan jualan es dulu oleh kakaknya biar dapet duit untuk isi celengan. Kalo Nares belum saya suruh jualan 😀

Pelajaran bermanfaat lainnya yang juga saya sendiri rasakan adalah ketika bulan puasa. Nares dan Kinar dengan mudahnya dibangunkan untuk bersahur. Nares pun sukses menjalankan puasanya full sehari penuh selama sebulan tanpa bolong 🙂 Kinar baru setengah hari dan ada beberapa hari bolong. Apa hubungannya dengan Ipin-Upin? Saat puasa sering anak-anak saya ngobrol bagaimana Ipin dan Upin gampang dibangunkan sahur…tahan godaan…dan berdoa sebelum berbuka.

Dan yang terbaru…Kinar menyanyi, “Terima kasih Cik Gu….terima kasih Cik Gu…”. Dari bahasanya saya tahu pasti dari Ipin-Upin nih… Lalu Kinar ngajari saya bernyanyi.
“Bunda mau aku ajarin nyanyi? Ikutin aku ya… Te”
“Te..” Saya pun mengikuti
“Ri..”
“Ri…”
“Ma..”
“Ma..”
“Ka..”
“Ka..”
“Sih..”
“Sih..”
“Cik…”
“Cik..”
“Gu..”
“Gu…”

Hahaha…bisa aja ya anak-anak….sayangnya saya belum liat film Indonesia yang seperti Ipin-Upin..yang kaya muatan mendidik,sederhana, santun, dan .menjaga kerukunan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s