Sumenep : Ketika Musim Pawai Tiba

Bulan Agustus sampai Oktober adalah bulan paling padat kegiatan karnaval atau pawai. Hampir setiap minggu ada aja karnaval yang bisa ditonton. Misalnya Karnaval Budaya yang digelar Minggu 14 September 2014. Acara ini sebenarnya digelar dalam rangka hari Pramuka 14 Agustus. Tapi yang ditampilkan lebih dominan berbagai macam budaya dan tradisi Sumenep daripada macam kegiatan Pramuka itu sendiri. Pesertanya seluruh gugus depan yang ada di kabupaten Sumenep, mulai dari tingkat SD sampai SMA, SMK, bahkan pesantren juga turun semua. Peserta dari kepulauan juga ada.

Peserta dari SMAN 1 Sumenep

Peserta dari SMAN 1 Sumenep

Peserta dari SMPK Sumenep

Peserta dari SMPK Sumenep

Peserta dari Ponpes Al-Amin

Peserta dari Ponpes Al-Amin

Nah..kalau yang berikutnya…foto-fotonya saya ambil waktu Sumenep Flower Festival 2014, 30 Agustus lalu. Hmm…Jangan bayangkan Sumenep itu kota yang bunganya melimpah ruah seperti di Kota Batu, Malang, atau Tomohon ya…Saya sendiri juga agak aneh… Mengusung tema Sumenep Cinta Bunga…rasanya kok kurang pas menurut saya, jauh dari identitas Sumenep. La bunga melati yang bisa tumbuh baik di Sumenep aja belum digarap serius..masih kalah dengan produksi melati di kabupaten Bangkalan 🙂 Kecuali … memang ada niatan dari pemerintah untuk mengembangkan tanaman bunga potong yang dipakai di festival itu (krisan, lili, mawar, kuku macan) menjadi tanaman yang bisa tumbuh dan berbunga di dataran rendah seperti di Sumenep ini.

Festival Bunga

Festival Bunga

Festival Bunga

Festival Bunga

Peserta Festival Bunga

Peserta Festival Bunga

Nah…yang di bawah ini…lomba musik tradisional yang biasanya digelar pas hari jadi Sumenep (Oktober). Musik Tong-tong ini awalnya hanyalah musik sederhana untuk membangunkan orang menjelang waktu sahur. Alat musiknya juga sederhana, dari kentongan, galon bekas, atau tong bekas. Lomba kadang diikuti peserta dari kabupaten lain diluar Sumenep. Lebih meriah lagi kalau lombanya digelar malam hari, mulai jam 9 malam sampai hampir menjelang subuh. Hiasan yang dipakai saat pawai dilengkapi lampu berwarna warni. Nah..Nares dan Kinar paling suka tontonan yang ini..meriah bangeettt dan gak bosen liatnya 🙂

Musik Saronen..favorit Nares dan Kinar..See..penarinya gak pake alas kaki..

Musik Saronen..favorit Nares dan Kinar..See..penarinya gak pake alas kaki..

Musik Tong-tong

Musik Tong-tong

Ini lomba musik ketika digelar malam hari. Meriah…

So..sampai Oktober nanti masih banyak even budaya yang menarik untuk ditonton. Yang paling dekat sih…Lomba Sapi Sonok dan Kerapan Sapi 20 September . Kerapan Sapi udah banyak yang tahu ya…Saya lebih tertarik untuk melihat Sapi Sonok..Sapinya besar-besar, mulus, kulitnya bersih mengkilat, kelihatan kalau sapinya dirawat secara istimewa. Saat lomba..sapi-sapi tersebut berjalan gemulai diiringi musik tradisional ‘Saronen’. Mudah-mudahan saya dan anak-anak bisa nonton dan membagikan ceritanya di blog saya ini ya… 😉

Sapi Sonok ikut pawai

Sapi Sonok ikut pawai

Wat a big cow...

Wat a big cow…

Advertisements

21 thoughts on “Sumenep : Ketika Musim Pawai Tiba

  1. wah, seru juga ya mak, karnavalnya, anak2 pasti suka nih liat karnaval 🙂
    btw, kami dpt oleh2 rengginang dr temannya suami yg asli sumenep, enak lho, ada ikannya kecil2 langsung di buat rebutan sama isya n himda 🙂

  2. wah paradenya keren sekali mbak di madura ada acara ginian keren” hehe itu musik tong tong itu mendunia loh mbak.. di Libanon juga pake alat giuan hehe tapi agak gedeh sih make drum hehe

  3. Pingback: Suramadu Dulu, Kini, dan Nanti | dianesuryaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s