Selamatkan Air, Selamatlah Kita

Upaya pencarian adanya kehidupan di planet lain selain bumi, seperti di Mars, sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Salah satu temuan yang menjadi acuan adalah ditemukannya kandungan air dalam contoh tanah yang diambil di Mars.

Ya..air menjadi salah satu syarat mutlak kehidupan bisa berlangsung. Tak ada air…tak ada kehidupan. Setiap makhluk hidup membutuhkan air untuk keberlangsungan hidupnya. Hewan, tumbuhan, apalagi manusia… Jelas…Saya dan Anda butuh air untuk hidup. Tak terbayangkan bila air di muka bumi ini menjadi barang langka bahkan musnah…

Munginkah air musnah?

20 juta hektar lebih lahan di Indonesia berstatus kritis karena berbagai aktivitas manusia. Air musnah sangat mungkin bila kondisi tersebut dibiarkan saja. Untuk itu menjadi sangat penting bila lahan kritis dibenahi menjadi lahan-lahan produktif yang memberi manfaat lebih besar bagi kehidupan manusia. Bukan hanya ketersediaan air untuk kehidupan manusia, tapi lebih dari itu…penanganan lahan kritis secara terstruktur, sistematis, dan masif akan memperbaiki kualitas kehidupan manusia dari berbagai aspek.

Tumbuhan adalah salah satu elemen terpenting dalam upaya pencegahan krisis air. Penanaman pohon berkayu di lahan kritis menjadi penyelamat kehidupan. Bagaimana tidak?Setiap pohon yang ditanam bisa menghasilkan 250 galon air sepanjang usia pohon itu (Kompas). Terbayang kan berapa jumlah air yang bisa disediakan bila lahan terjaga kelestariannya? Makanya..tak perlu ragu untuk menanam pohon..dan jangan ragu melarang penebangan pohon.

Lahan Kritis

Jaga Kualitas Air

Memperbaiki kualitas lingkungan juga penting untuk meningkatkan kualitas air. Di daerah yang padat penduduk seperti di Jawa, menjaga jarak antara septic tank dengan sumur kadang diabaikan. Karena itu kualitas air bersih menjadi berkurang dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Jarak minimal antara tempat pembuangan dengan sumber air setidaknya 10 meter, bila kurang dari itu bakteri dari tempat pembuangan akan mudah mencapai sumber air sehingga mencemari air .

Pembuangan limbah rumah tangga ke sungai juga berperan besar dalam penurunan kualitas air sungai. Berbagai upaya bisa dilakukan untuk mengurangi pencemaran tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat saluran pembuangan limbah komunal yang didesain sedemikian rupa sehingga air limbah rumah tangga tidak langsung masuk ke sungai. Air limbah melalui proses pengolahan limbah secara sederhana, sehingga air yang masuk ke sungai bukan lagi air yang mengandung bahan-bahan pencemar.

Mencari sumber air bersih alternatif selain air dari tanah penting diupayakan. Mulai dari mengelola air hujan yang melimpah saat musim hujan sampai mengolah air laut menjadi air tawar yang layak minum.

Advertisements

BRI Kembalikan Uang Saya

Kisah ini berawal ketika pembelian token listrik sedang tidak bisa dilakukan di beberapa merchant seperti  Indomaret, Alfamart, dan penjual token lainnya. Token hanya bisa dibeli di loket PLN  (yang tidak 24 jam 7 hari bukanya), ATM BRI dan ATM Bank Mandiri. Intinya ribet lah beli token. Apalagi saya gak punya rekening Mandiri, hanya BRI dan BCA. BRI sering sekali gangguan terutama pada saat week end.

Termasuk ketika saya bertransaksi di ATM BRI Kantor Cabang  Sumenep pada hari Sabtu 10 Mei 2014 jam 20:09:50 (sesuai yang tercetak pada struk ATM) senilai 50.000 IDR (lima puluh ribu rupiah) saja. Selesai transaksi saya tidak cek nomer token dan tidak langsung mengisikan token. Baru besok paginya Minggu 11 Mei 2014 saya liat struk untuk isi token.Ternyata terdapat tulisan ‘Transaksi Anda sedang diproses untuk mendapatkan nomer token, Silahkan menggunakan menu cetak token dengan memasukkan nomer meter dan nomer referensi pada struk ini. Duhh pagi-pagi sekali saya harus meluncur  ke ATM BRI Cabang Sumenep lagi. Daaann…3 mesin ATM meresponnya dengan ‘Transaksi Anda Gagal’.

Kegagalan transaksi tersebut saya laporkan ke Call BRI 02157987400, dicatat dengan no. referensi 200175506090, selanjutnya saya diminta menunggu kabar dari BRI dan BRI akan mengklaim PLN untuk mengembalikan dananya. Beberapa hari kemudian saya dihubungi 02157932928 atas nama Duta BRI (kalau saya tidak salah dengar waktu itu). Tapi telpon putus-putus..dan akhirnya putus beneran. Dan tidak ada telpon lagi sampai hampir seminggu.

Saya kemudian mencoba menanyakan ke CS di BRI cabang Sumenep. Setelah saya jelaskan kepada CS, CS menyarankan saya bertanya pada Call Center..hehehe..saya pikir dengan menemui CS lebih mudah dan jelas ternyata tidak… Saya nyaris putus asa… Kemudian saya disarankan untuk menemui Supervisor CS atau  Layanan Kantor Cabang Sumenep. Akhirnya saya temui Supervisor Layanan BRI Kantor Cabang Sumenep. Dari pengecekan pihak BRI, diketahui tidak ada transaksi di rekening saya pada tanggal 10 Mei 2014 jam 20:09:50. Nahlo..padahal struknya keluar dan saldo saya berkurang. Pada catatan BRI tertulis transaksi terjadi pada hari Minggu 11 Mei 2014 siang (jamnya saya tidak lihat). Setelah dibuatkan laporan pada tanggal 16 Mei 2014. Saya diminta untuk menunggu dan cek lagi sampai 4 hari kerja. Okelah..

Tanggal 23 Mei 2014 (5 hari kerja setelah laporan dibuat)saya menghubungi Supervisor Layanan dan mendapat jawaban masih dicek. Okelah…Karena  sampai tanggal 26 Mei 2014 saya belum dapat kabar apa-apa, saya coba hubungi lagi Supervisor Layanan tersebut, tidak ada respon. Okelah..Pihak BRI lainnya juga tidak ada yang bisa memberikan jawaban apa sebenarnya yang terjadi dengan transaksi tanggal 10 Mei tersebut dan bagaimana nasib 50.000 IDR yang katanya akan dikembalikan. Ya..saya sudah berniat mengiklaskan sajalah…cuma 50.000 ini… Tapi di sisi lain saya pengen mencoba sejauh mana hasil proses komplain seperti ini. Berakhir tanpa kejelasan atau sebaliknya?

Setelah menunggu dengan sabar, awal Juni akhirnya saya mendapat SMS bahwa aduan saya sudah diselesaikan dan uang 50.000 akan ditransfer ke rekening BRI saya. Alhamdulillah senangnya…Ternyata ada hasilnya mondar mandir ke Kantor Cabang BRI. Meskipun uang yang terpotong baru ditransfer sekitar 2 hari setelah saya menerima SMS dari BRI tersebut, saya lega..Lumayan kan 50.000 buat naik odong-odong Nares dan Kinar…hehehe. Trims ya BRI.