Repost : Sekarang Itu Surga

Updating kali ini…saya cuma mau repost aja…sekalian buat arsip :p Sebenarnya tulisan ini dibuat tahun 2005, repost di Facebook 2010, saya repost lagi disini..hehehe.. Tulisan ini untuk mengingatkan saya aja…kalau menjadi jurnalis sekarang jauh lebih mudah dan simpel, gak seperti dulu. Apalagi sekarang ada jurnalisme warga ketika setiap orang bisa menjadi pewarta.

Selamat membaca deh…mudah-mudahan ada manfaatnya….

Sekarang Itu Surga….

Sabtu siang suasana kantor sepi..Selesai menggantikan tugas penyiar yang absen aku turun dari lantai 2.

“Dian lahir tahun berapa..?”salah satu komisaris perusahaanku bertanya pas aku sampai di meja kerjaku. Aku sedang membaca harian Kompas edisi Sabtu.
“Tahun 77 pak..Kenapa?”
“Nah..Dian perlu tahu sejarah juga..ini saya bawakan Koran tahun 71..”

What..???Koran tahun 71 beliau masih punya???

“Koran waktu itu hanya boleh terbit 1 lembar begini..” Komisaris yang dulu memang wartawan itu menunjukkan selembar koran berwarna cokelat (karena faktor usia), lebih besar dari ukuran Jawa Pos, Kompas, apalagi Koran Tempo.

Aku lihat tanggal penerbitan Harian Abadi itu Senin 16 Agustus 1971, 23 Djumadil Achir 1391 H.
Aku tersenyum mengamati koran yang menampilkan banner di halaman depan “Sekali Merdeka Tetap Meredeka”. Ya..karena edisi itu terbit sehari sebelum peringatan kemerdekaan RI. Masih di halaman depan, ada foto Soekarno berjabat tangan dengan Soeharto, Keluarga Soeharto lengkap bersama the first lady dan putra putrinya yang sekarang lebih berperan sebagai selebriti atau napi. Ada juga foto Presiden Soeharto, teks di foto itu menyebutkan : ‘ untuk meningkatkan produksi pertanian, Presden Suharto turun kesawah mengajun tjangkul.’ Ah..jadi mirip si SBY…

Sementara beberapa berita yang aktual hari itu Kapolri Drs.Hoegeng: Ketentuan Ttg Helm Belum Ada Dasar Hukumnja. Jadi ingat dasar hukum menyalakan lampu sepeda motor di siang hari..Apa ya?

Kakek kelahiran Bangkalan 12 Desember 1922 itu kembali menjelaskan dengan semangat ’45,
“Waktu itu koran cuma boleh terbit selembar begini..karena keterbatasan stok kertas…Pemerintah melarang terbit lebih dari selembar. Tapi koran yang paling kaya waktu itu KOMPAS, terbit lebih dari 1 lembar.”
Padahal dulu hutan pasti masih bagus kondisinya..sekarang hutan habis..tapi justru sebaliknya..tak ada satupun media cetak yang terbit selembar..seperti harian yang aku pegang ini…

Aku tersenyum lagi melihat halaman belakang koran itu. Isinya iklan semua, Sarinah Toserba
(yang aku ingat Sarinah ini terbakar waktu tahun 80an..), Garuda Indonesian
Airways yang mengiklankan ‘Singapore, terbanglah kesana dengan Garuda dalam
njaman dan tjepatnja pesawat Jet besar DC-9’.

Ada juga iklan yang bunyinya begini,”Telah lahir…Dengan Rahmat Tuhan Jang Maha Esa, telah lahir dengan selamat pada tanggal 11 Agustus 1971 putera kami jang ketiga. Fickry A. S. Kepada bidan Nj.E.Soebagio tak lupa kami utjapkan terima kasih atas segala bantuan jang telah diberikannja. Keluarga jang berbahagia….bla..bla..bla..”. Tarif iklannya 1 mm/kolom Rp. 40 rupiah. Harga langganannya 250 rupiah…….untuk dalam kota dan luar kota lewat via pos biasa!!!!Kalau via pos udara 275 rupiah saja….Wow!!!!

“Wartawan sekarang enak…kalo dulu mau kirim berita..harus cari taksi dulu..Atau telpon
ke Jakarta ne..belum tentu 2 hari bisa tersambung sama Jakarta..”
“Wah..berarti beritanya gemana tu Pak?”
“Ya..yang bisa dimuat biasanya yang longlife. Jadi kalo kira-kira ndak bisa tersambung dengan Jakarta..ya sudah..berita nya angus…”
“Ndak kayak sekarang telpon tinggal pencet 021…sudah nyambung..ada HP..fax..internet..”
Aku hanya tertawa..
“Sekarang ini surga…dulu percetakannya juga gak sesempurna sekarang. Mesin cetak gak punya huruf yang lengkap. Ada yang gak punya huruf P, ada yang gak punya huruf D..”
“Trus tulisan di korannya gemana tu Pak?”
“Ya..diganti dengan huruf yang mirip. Misalnya Penduduk..percetakan yang gak punya huruf P menggantinya dengan B..jadi bacaannya Benduduk…” hahahaha…jadoel..jadoel…

Sayang Harian Abadi ini tak seabadi namanya..
“Bersama 5 koran lainnya..Indonesia Raya, Jakarta Times, KAMMI, trus apa lagi satu saya
lupa…di bredel karena memuat berita pembongkaran kasus Malari.”
“Aturan bredel waktu itu pake apa Pak.?”
“Ndak pake aturan. Sesudah Indonesia merdeka, pembredelan justru lebih kejam dibanding
jaman penjajahan Belanda. Kalau jaman Belanda ada namanya Press Breidel
Ordonnansi. Kalau ada koran yang menjelekkan pemerintah, pimred langsung yang dipanggil,
disidang, ditunjukkan berita ini hari ini tanggal segini menghina pemerintah.
Lalu diputuskan..koran dibredel dari tanggal sekian sampai tanggal sekian..bisa
cuma seminggu..atau 2 minggu..Jadi karyawan tidak kehilangan mata
pencaharian..Setelah Soekarno menyatakan Pers berjasa besar dalam kemerdekaan
RI, Press Breidel Ordonnansi dihapus. Pas jamannya Suharto..pembredelannya
langsung menyegel percetakan, karyawan jadi korban..” Oalah Suharto..Suharto…

Orang yang menguasai 4 bahasa asing dan rajin membaca majalah TIME ini menilai “Berita
jaman dulu juga lebih menggigit…kalo sekarang lebih banyak talking news
daripada factual news..”

Menarik juga bisa melihat bagian dari sejarah pers di Indonesia dari saksi sejarah. Lebih menarik
lagi…Perwakilan Harian Abadi di Jawa Timur yang pernah menjadi wartawan
Memorandum ini berjanji “ Hari Senin saya bawakan koran terbitan tahun 49….”

Saksi sejarah itu bernama Hasan Altuwy

*Saya memuat tulisan ini di http://dianeka.blog.friendster.com tanggal 11 November 2005*

 

***

Nah…link blog yang saya tulis itu udah gak bisa diakses lagi…xixixi…Tokoh yang saya ceritakan di atas juga sudah almarhum dan saya terlambat sekali dapat beritanya.. Semoga beliau ditempatkan di tempat yang indah di surga…

 

Advertisements

One thought on “Repost : Sekarang Itu Surga

  1. Pingback: Melawan Malas Nulis | dianesuryaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s