Filipina, The Deadliest Country for Journalist?

#10daysforASEAN hari ke-8, tantangannya adalah….

  • Filipina yang menjadi fokus tema. Yaitu : Filipina dan Kebebasan Berekspresi. 
  • Kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di negara-negara anggota ASEAN tidak sama. Beberapa negara, termasuk Indonesia, bebas atau longgar dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi para blogger, yang sekarang ini menjadi salah satu alternatif dalam penyebaran informasi atau jurnalis warga. Tetapi ada juga negara yang mengekang kebebasan berekspresi warganegaranya, dan ada negara yang memenjarakan blogger jika tulisannya menentang pemerintahan negaranya.
  • Bagaimana dengan Filipina? Apakah Filipina termasuk negara yang longgar dalam kebebasan berekspresi dan informasi bagi para warganegaranya, termasuk blogger atau jurnalis warga?
  • Tuliskan dalam satu postingan menarik bagaimana pendapatmu tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di Filipina.

Filipina, The Deadliest Country for Journalist?

Saya : Halo mas…mau tanya2 nih.. menurut sampean..kebebasan berekspresi+berpendapat di Filipina itu gemana..katanya jauh lebih baik daripada di Indonesia ya?

Iman : Kalau di Filipina, tidak lebih baik. Coba kamu lihat website reporter without border, akan terlihat nilai kebebasan pers. Dan aku rasa Indonesia ada di atas Filipina. Di sana itu, masih banyak jurnalis mati dibunuh (kebanyakan penyiar radio) karena materi siarannya dianggap tidak beerimbang, dll.

Itu percangkapan singkat saya di Facebook dengan mas Iman D. Nugroho salah seorang jurnalis yang tinggal di Jakarta, salah seorang tokoh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan pernah bekerja di berbagai media salah satunya The Jakarta Post.

Disaat yang bersamaan saya juga bertanya melalui Blackberry Masenger pada seorang sahabat yang pernah berada di Filipina selama 4 bulan pada tahun 2008, Slamet Herianto (Amok).

Saya : kebebasan pers disana gemana mas..sepengamatan sampean?

Amok : Aku rasa bebas disana. Tapi kalo menyangkut soal politik amat sensitif. Tidak boleh memberitakan sesuatu yang negatif tentang pemerintah.

Saya : isi koran-korannya disana gemana mas?

Amok : isinya seperti buletin info Sumenep. Menyanjung rato Sumenep.

***

Selesai bercakap-cakap..saya mencari terus..dan mencari… Inilah hasilnya :

1 Agustus 2013

“2 orang tak dikenal tiba-tiba masuk ketika selesai makan malam, seorang pria kemudian membentak dan melepaskan tembakan. Ayah saya tadinya tidak terkena peluru, tapi seorang pria kemudian mendatanginya dan menembakinya dalam jarak dekat. Pembunuh kemudian menghilang ditengah kegelapan malam.” (Kesaksian Marisol – 15 tahun- putri Mario Sy wartawan foto berita di General Santos Filipina Selatan, Kompas 3 Agustus 2013)

30 Agustus 2013

Seorang komentator radio Fernando ‘Nanding’ Solijon ditembak mati di Iligan City. Ini wartawan keempat yang dibunuh dalam sebulan terakhir di Filipina. Dua orang tak dikenal dan bersenjata mengendarai motor menembak Solijon saat ia berjalan ke mobilnya setelah makan malam bersama temannya. Dalam program radio reguler yang dibawakannya, Solijon sering mengkritik politisi lokal termasuk keterlibatan perangkat di tingkat desa dalam perdagangan narkoba.” (Committee to Protect Journalist, 30 Agusus 2013)

4 kejadian dalam sebulan terakhir menambah panjang daftar wartawan yang tewas di Filipina. Padahal sampai dari tahun 1992 sampai tahun 2012 saja sudah tercatat lebih dari 70 wartawan tewas karena dibunuh di Filipina. Itu jumlah yang motif nya diketahui ya…untuk motif pembunuhan yang belum diketahui jumlahnya sekitar 40 kasus. Jumlah tersebut sangat jauh dibanding Indonesia yang tercatat ada 10 wartawan yang tewas dibunuh karena terkait pekerjaannya.

 

Karena kasus-kasus di Filipina tidak terselesaikan, membuat Filipina menduduki peringkat ketiga di dunia dalam hal impunitasnya (versi Committee to Protect Journalist). Sementara Reporters Without Borders menempatkan Filipina di urutan ke 147 untuk urusan kebebasan pers dalam World Press Freedom Index. Filipina masih dibawah Indonesia (139), dan Brunei Darussalam sebagai negara yang tidak menganut sistem demokrasi justru tertinggi peringkatnya diantara negara-negara ASEAN (122).

Dari fakta-fakta tersebut sangat jelas terlihat bagaimana Filipina sedang berjuang menciptakan kebesan berkespresi dan berpendapat. Yang jelas-jelas pekerjaannya wartawan saja dihabisi..apalagi yang ‘hanya’ berperan dalam jurnalisme warga seperti blogger. Karena itulah warga Filipina saat ini juga sedang berjuang agar pemerintah merevisi Undang-undang anti kejahatan siber (Cyber Crime Prevention Act 2012). Yang gelagatnya bakal membatasi kebebasan berekpresi dan berpendapat di dunia maya, meskipun pemerintah berdalih undang-undang itu dibuat untuk melindungi warganya, terutama kaum perempuan.

 

ASEAN Community 2015 semakin dekat loh…Maka Filipina tampaknya harus mempercepat proses keterbukaannya terhadap media dan memberikan ruang yang leluasa bagi pers untuk memberikan informasi kepada warganya. Begitu juga kepada pelaku jurnalisme warga yang menyampaikan pendapatnya lewat berbagai media di internet. Kebebasan diberikan bukan hanya saat berpendapat, tapi juga setelah pendapat itu disampaikan.. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s