Pacu Jalur…#CLBK = Cerita Lama, Baru ditulisKan#

Suatu ketika…saya melintas di depan tv yang sedang ditonton mama. Acara tv waktu itu tentang kegiatan-kegiatan unik di beberapa wilayah di Nusantara. Saya mendengar salah satunya adalah Maleo Jalur di Riau. Liputan tentang kegiatan itu membuat saya terduduk sebentar dan menyimak dengan lebih seksama. Yayaya…liputan tentang Maleo Jalur ini memang tidak asing bagi saya. Saya jadi senyum-senyum sendiri mengingatnya..Apakah yang membuat saya tersenyum?

Jadi begini ceritanya…

Sekitar bulan Agustus 2006, saya mendapat tugas ke Pekanbaru. Radio partner disana mengajukan liputan tentang tradisi tahunan di Kuantan Singingi (Kuansing) Riau. Sesampai di Pekanbaru saya menyelesaikan proses liputan 2 materi feature dulu sebelum liputan tentang Pacu Jalur. Seingat saya liputan waktu itu adalah tentang pendidikan dan kesehatan. Untuk Pendidikan, radio partner mengajukan tema pendidikan tentang prestasi sebuah SMA dan tema kesehatan tentang tingginya angka kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) di Pekanbaru. Liputan tentang ISPA itu memang sangat tepat dan khas Pekanbaru..mengingat Pekanbaru langganan kabut asap sebagai dampak kebakaran (atau pembakaran ya..?) hutan disana. Saat liputan berlangsung..kabut asap juga sedang melanda Pekanbaru..sampai ke kamar hotel tempat saya menginap pun..bau asap tercium begitu kuat.

Selesai melakukan semua proses wawancara 2 tema tadi, kru radio menyiapkan peliputan ke Kuansing. Mereka menyarankan sewa mobil saja untuk menuju kesana, karena jauh dan diperkirakan kami akan berada di Kuansing sampai menjelang sore. Saya sendiri tak banyak persiapan khusus karena alat rekam sudah dibawa reporter radio. Saya sempat ragu-ragu untuk membawa laptop ke lokasi. Akhirnya laptop saya tinggal saja di kamar hotel. Biasanya saya selalu membawa laptop itu kemanapun saya pergi karena memang ukurannya tak terlalu besar. Selesai makan pagi..reporter sudah siap di lobi hotel dan kamipun langsung meluncur ke lokasi. Waktu tempuh Pekanbaru-Kuansing sekitar 4 jam. Kami melintasi jalan yang relatif baik kondisinya..meski sempit. Jarang sekali menemui perkampungan..kebanyakan hanya hutan dan perkebunan. Memasuki daerah Kuansing, suasana bahwa ada acara tahunan sangat terasa. Ramai. Apalagi reporter mengajak untuk melihat upacara pembukaan acara yang digelar di sebuah lapangan tak jauh dari Sungai Kuantan yang dijadikan arena Pacu Jalur.

Setelah upacara pembukaan, kami berjalan menuju arena. Kami melewati kios-kios pedagang yang menggelar dagangannya khusus meramaikan acara Pacu Jalur. Rasanya warga Kuansing tumpah ruah di arena itu. Sampai di tepi sungai..sudah tampak puluhan perahu yang akan bertanding dengan berbagai hiasan di perahu masing-masing dan seragam pendayung yang beraneka warna. Sebelum menyaksikan para peserta bertanding, kami melihat para peserta menggelar tenda dari terpal di sekitar tepi sungai. Disitulah reporter radio berkesempatan mendapat beberapa informasi seputar keikutsertaan para pendayung dalam lomba yang digelar dalam rangka hari kemerdekaan RI ini. Dulunya sih untuk merayakan hari besar agama Islam..Informasi lebih lengkapnya bisa tengok disini ya…

Sumber:www.riaudailyphotos.com

Sumber:www.riaudailyphotos.com

Dari keterangan para peserta itu saya jadi tahu kalau perahu yang digunakan dalam lomba adalah kayu dari sebatang pohon. Ya..perahu itu tidak terdiri sambungan kayu, tapi berasal dari 1 pohon utuh yang dibentuk menjadi perahu. Panjangnya sekitar 30-50 meter, dan lebar perahu sekitar 50 cm. 1 perahu digerakkan oleh sekitar 40-50 orang pendayung yang duduk di sisi kanan dan kiri perahu. 1 orang berdiri di depan dan 1 orang lagi di belakang perahu. Reporter radio kemudian mengajak saya untuk melihat dari sisi seberang. Akhirnya kami mencari jalan dan melewati jembatan untuk menyebrangi Sungai Kuantan yang lebarnya sekitar 20 meter. Memang di sisi seberang ini tidak tidak terlalu padat..meskipun ya tetap saja ramai. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang makanan. Saya hanya sempat membeli minuman sebentar karena reporter sudah mengajak untuk melihat lebih dekat ke tepi sungai. Yang saya ingat waktu itu..saya bisa berjalan di tepian sungai yang mengering dan agak surut.

Ketika perlombaan sedang istirahat..reporter mengusulkan menyewa perahu kecil untuk bisa ke tengah. Saya iyakan saja dan saya biarkan reporter tersebut memilih perahu yang akan disewa. Setelah siap, saya dan reporter itupun naik ke atas perahu kecil yang dikemudikan seorang lelaki tua pemilik perahu. Perahu diarahkan agak ke tengah, karena memang perlombaan sedang berhenti untuk beristirahat. Jadi kami tak mengganggu lalu lintas lomba. Reporter merekam berbagai ambiance yang dia butuhkan untuk mendukung liputannya. Setelah selesai, saya meminta berfoto. Inilah foto yang sempat diambil dengan kamera handphone Nokia (seri berapa lupa.. 🙂 )

Keep Smile.. :)

Keep Smile.. 🙂

Selesia berfoto, entah kenapa pemilik perahu mengajak kami untuk ke tengah lagi, padahal tadi kami sudah agak menepi dan saya pikir langsung parkir. Saat ke tengah itulah..saya melihat dari kejauhan ada peserta lomba yang tampaknya akan latihan memacu jalurnya. Waduh…saya hanya sempat memberi tahu pemilik perahu kalau ada perahu akan lewat.. Tampaknya pemilik perahu dan reporter tak melihat ke arah yang sama dengan yang saya lihat…Keramaian di sekitar lokasi juga membuat peringatan saya tak terlalu terdengar jelas. Hasilnya…pemilik perahu terlambat menghindar..sementara Jalur yang didayung lebih dari 30 orang dengan full power sangat tidak mungkin berbelok arah menghindari perahu yang saya tumpangi…

Bruaaaakkkkk!!!!!!!

Dan perahu kami pun tertabrak jalur yang terus saja melaju dengan kecepatan penuh..Sementara perahu kecil yang saya tumpangi terbalik dan semua penumpang tercebur ke sungai..Byurrrr…. Sukses kami basah kuyup. Kedalaman sungai di tempat perahu terbalik tampaknya lebih dari 1 meter..karena kaki saya tidak merasakan dasar sungai. Yang membuat saya agak panik adalah…saya tidak bisa berenang. Beruntung ada orang yang menarik saya ke tepi. Setelah saya yakin semua baik-baik saja, terutama reporter dan pemilik perahu yang sudah tua itu, saya meminta reproter untuk langsung kembali ke Pekanbaru. Ya..dalam keadaan basah kuyup kami berjalan ke tempat kami memarkir mobil..lumayan jauh ternyata.. Sesampai di mobil kami hanya berusaha mengeringkan peralatan elektronik yang kami bawa seperti handphone dan alat rekam ‘Marantz’. Alhamdulillah..alat rekam aman..tapi handphone saya mati total dan tampaknya harus diservis. Wah beruntung sekali saya tinggalkan laptop di kamar hotel tadi. Dan ternyata air juga merusak fungsi remote alarm di kunci kontak mobil. Jadilah kami pulang dengan mobil yang alarmnya berbunyi terus menerus.

Kami hanya sempat mampir di sebuah wartel setelah 1 jam perjalanan dari Kuansing untuk menelpon keluarga dan teman kantor untuk memberitahukan kecelakaan yang baru saja terjadi. Di warnet tersebut kami dibantu untuk memutus kabel-kabel alarm sehingga tak berbunyi lagi. Dan sampailah kami di Pekanbaru dengan selamat.

Kalau mengingat kejadian itu saya jadi senyum-senyum..terbayang ribuan mata melihat perahu kecil yang saya tumpangi terbalik karena ditabrak jalur yang sedang berlatih. Sakitnya tak seberapa..tapi malu nya itu lohh…:D Anyway…saya bersyukur pernah melihat langsung tradisi tahunan itu. Sekarang untuk membayangkan mengulangnya aja udah jauh bangeeettt.. 🙂

Advertisements

Melawan Malas Nulis

 

Hiyaaa..nulis lagi…untuk ikutan GA lagi…Padahal niatnya nulis yang gak pake tujuan lomba, kompetisi, atau GA apapun..Tapi..ya lihatlah…lagi-lagi menulis berdasarkan ‘pesanan’ 😀 . Tak apalah…sementara dijalani aja..daripada tidak sama sekali..Bukan begitu..?

Awal saya aktif menulis di dunia maya..di blog Friendster. Waktu itu sekitar tahun 2003-2005 an lah…saya masih kerja di sebuah radio swasta di Pamekasan-Madura. Hampir setiap hari saya bisa posting tentang apa saja..kejadian apa saja yang saya alami..bisa jadi tulisan. Apalagi beberapa teman menilai tulisannya waktu itu enak dibaca…huhu…mekar nih kuping.. 😀

Tahun 2006 saya pindah ke Jakarta karena diterima bekerja di Internews Indonesia.. Ini adalah salah satu mimpi saya yang tercapai..menjadi bagian penting dari sebuah lembaga yang cukup berperan dalam pengembangan media di Indonesia (khususnya radio). Nah..sebagai junior editor di Internews, saya dapet tugas supervisi proses pembuatan radio feature yang dilakukan radio-radio partner di Jawa-Sumatera. Nahh..mestinyaaa…saya punya bahan tulisan yang buanyaaaaakkkk kan??? Secara….dalam sebulan minimal saya berkunjung ke 2 daerah dan ikut liputan reporter radio daerah. Dari wawancara mereka aja sudah bisa jadi bahan kan? Sekali datang ke daerah..ada 2-3 topik materi feature yang beda-beda mulai sosial, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Tapi kenyataannya….tak satu tulisanpun saya buat selama saya kerja di Internews..paraaahhhhh… Waktu ada, sarana ada, bahan ada…trus kenapa gak bisa juga..? Niat lah ya…

Padahal waktu itu Program Director, mas Eric Sasono, selalu berpesan untuk membuat tulisan setiap kami para editor pulang dari daerah. Ya..saya manggut-manggut aja..Tapi entah kenapa gak ada satu tulisanpun yang jadi.

Wal hasil sampai tugas di Internews selesai (2007) dan saya off dari dunia kerja..datanglah kerinduan pada dunia lama..menulis. Tapi ya..lagi-lagi..belum bisa juga menulis seperti sedia kala. Saya hanya sempat memindahkan salah satu tulisan saya di Friendster ke note Facebook. Tulisannya sudah saya repost disini

Dari jejak arsip di Facebook, saya lihat ada 3 tulisan saya yang diupload tahun 2011. Lumayan aktif ya tahun 2011 hehe…Nah pada tahun 2011 itu saya juga kayaknya pernah bikin beberapa blog..di blogspot dan Kompasiana. Nah di blogspot saya lupa nama nya..dan memang tidak pernah posting lagi disana. Di Kompasiana gemana? Well..saya baru buka-buka akun Kompasiana saya..dan tercatat buka akunnya mulai Mei 2011..baru saya isi tulisan 2013 ini..hahahaha…malasss…malassss.

Dan akhirnya pada tahun 2013 inilah saya seperti ‘reborn’..Menjadikan tulisan sebagai sarana belajar sekaligus berbagi. Saya buat akun di wordpress ini bulan April lalu.. masih baru banget yak.. 🙂 Jangan heran kalo blog saya ini gundulan aja..alias gersang..alias gak dihias apa-apa…Masih belajar..Haha..jangankan menghias blog…menulis aja malasnya gak ketulungan… Sebagai mantan pewarta radio yang dituntut menulis sesimpel mungkin (ehhmm…katanya profesi jurnalis itu gak ada istilah mantan atau pensiunan yak..) pastilah bisa menilai sesuatu bisa dijadikan tulisan atau tidak…rasanya hampir semua hal bisa jadi bahan. Liat anak nangis..bisa jadi bahan… liat anak sekolah..bisa jadi bahan..liat becak bisa jadi bahan..liat anak SMP setir motor..bisa jadi bahan dan kebayang apa yang mau dibahas… Nah..sayangnya…semua itu hanya sebatas mimpi…ehh maksudnya hanya sebatas ide di kepala dan di hati. Gak ada eksekusi.

That’s it…EKSEKUSI!! Karena kalo sudah ada ide..biasanya menulis pastilah lancar..tau-tau dah jadi berapa halaman…gitu. Tapi kalo lagi gak ada ide…wahhh..mau berjam-jam atao berhari-hari di depan laptop juga gak akan bisa nulis 1 kata pun…hehehe itu kalo saya loh ya..

Jadi biar tetep eksis nge blog harusnya gemana donk….

Kalo saya sih…yang pertama dan utama itu niat! Kalo udah niat…kendala apapun akan dilibas…

Nah kedua,  baca…  Saya akui…minat baca saya tidak seheboh dulu..apalagi yang namanya buku. Tapi kalau baca-baca koran, majalah, atau bacaan lain di media online…masih ada lah minatnya.. Padahal membaca ini salah satu kunci sukses menulis…bukan begitu? Ya, silahkan rajin-rajin baca deh kalau niat mau nulis yang bagus.. J

Berikutnya..kalau kita punya kesempatan atau punya sarana untuk ber online ria..manfaatkanlah untuk menjelajah dari situs satu ke situs lainnya…dengan cara ini biasanya sih kalau saya jadi termotivasi untuk menulis…bisa jadi menulis langsung di blog nya atau menulis di word dulu..barulah di publish di blog atau note facebook…

Niat udah…baca udah…browsing-browsing udah…nulis udah mulai…Selessiakan tulisannya…:D yap..kadang saya sendiri begitu…udah niat nulis…begitu nulis…belum selesai..ada sesuatu harus ninggalin leptop.. begitu balik lagi…lupa yang mau ditulis apa…J semangatnya juga udah beda…Meskipun gak semua tulisan begitu kasusnya… Tulisan ini contoh yang saya buat tidak dalam 1 kali tulis.. Kadang saya gak tutup file nya..jadi begitu saya di depan laptop gak perlu cari-cari file…kadang cari-cari file bikin saya males nerusin menulis..:p Alesan aada  ajah..

Kalau sudah selesai menulisnya..buru-buru deh di publish..:) sebelum alesan lain muncul… Yang belum ada gambar lah..yang belum diedit lah…intinya belum komplit.. :p Saya kadang buru-buru publish ya untuk menghindari alasan-alasan yang bisa muncul itu tadi..:D Toh nanti bisa diedit kalau mau dipercantik dengan gambar…Kecuali yang posting untuk lomba-lomba gitu yak…tapi klo udah keuber deadline sih…yang penting posting dulu lah…dipercantiknya..setelah posting gapapa…asal belum di daftarkan ke panitia yak..xixixi

Kalau sudah di publish…nah..tinggal di share deh…Meskipun sudah ada fasilitas share otomatis ke FB,Twitter, Linkedin, dll.. Postingan bisa dishare lebih luas lagi ke grup-grup di FB..atau dengan mention ke twitter siapa gitu yang banyak followernya untuk kemudian di retwit. Dengan begitu orang akan banyak yang baca postingan kita. Sukur-sukur dikomentari..sekalian di follow..hehe..

Kalau sudah begitu biasanya sedikit sekali alasan untuk tidak menulis lagi…kalaupun ternyata masih jarang posting atau malah nganggur blognya..ya..kembali ke Pasal 1 tadi..Niat!Nawaitu!

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog”

Repost : Sekarang Itu Surga

Updating kali ini…saya cuma mau repost aja…sekalian buat arsip :p Sebenarnya tulisan ini dibuat tahun 2005, repost di Facebook 2010, saya repost lagi disini..hehehe.. Tulisan ini untuk mengingatkan saya aja…kalau menjadi jurnalis sekarang jauh lebih mudah dan simpel, gak seperti dulu. Apalagi sekarang ada jurnalisme warga ketika setiap orang bisa menjadi pewarta.

Selamat membaca deh…mudah-mudahan ada manfaatnya….

Sekarang Itu Surga….

Sabtu siang suasana kantor sepi..Selesai menggantikan tugas penyiar yang absen aku turun dari lantai 2.

“Dian lahir tahun berapa..?”salah satu komisaris perusahaanku bertanya pas aku sampai di meja kerjaku. Aku sedang membaca harian Kompas edisi Sabtu.
“Tahun 77 pak..Kenapa?”
“Nah..Dian perlu tahu sejarah juga..ini saya bawakan Koran tahun 71..”

What..???Koran tahun 71 beliau masih punya???

“Koran waktu itu hanya boleh terbit 1 lembar begini..” Komisaris yang dulu memang wartawan itu menunjukkan selembar koran berwarna cokelat (karena faktor usia), lebih besar dari ukuran Jawa Pos, Kompas, apalagi Koran Tempo.

Aku lihat tanggal penerbitan Harian Abadi itu Senin 16 Agustus 1971, 23 Djumadil Achir 1391 H.
Aku tersenyum mengamati koran yang menampilkan banner di halaman depan “Sekali Merdeka Tetap Meredeka”. Ya..karena edisi itu terbit sehari sebelum peringatan kemerdekaan RI. Masih di halaman depan, ada foto Soekarno berjabat tangan dengan Soeharto, Keluarga Soeharto lengkap bersama the first lady dan putra putrinya yang sekarang lebih berperan sebagai selebriti atau napi. Ada juga foto Presiden Soeharto, teks di foto itu menyebutkan : ‘ untuk meningkatkan produksi pertanian, Presden Suharto turun kesawah mengajun tjangkul.’ Ah..jadi mirip si SBY…

Sementara beberapa berita yang aktual hari itu Kapolri Drs.Hoegeng: Ketentuan Ttg Helm Belum Ada Dasar Hukumnja. Jadi ingat dasar hukum menyalakan lampu sepeda motor di siang hari..Apa ya?

Kakek kelahiran Bangkalan 12 Desember 1922 itu kembali menjelaskan dengan semangat ’45,
“Waktu itu koran cuma boleh terbit selembar begini..karena keterbatasan stok kertas…Pemerintah melarang terbit lebih dari selembar. Tapi koran yang paling kaya waktu itu KOMPAS, terbit lebih dari 1 lembar.”
Padahal dulu hutan pasti masih bagus kondisinya..sekarang hutan habis..tapi justru sebaliknya..tak ada satupun media cetak yang terbit selembar..seperti harian yang aku pegang ini…

Aku tersenyum lagi melihat halaman belakang koran itu. Isinya iklan semua, Sarinah Toserba
(yang aku ingat Sarinah ini terbakar waktu tahun 80an..), Garuda Indonesian
Airways yang mengiklankan ‘Singapore, terbanglah kesana dengan Garuda dalam
njaman dan tjepatnja pesawat Jet besar DC-9’.

Ada juga iklan yang bunyinya begini,”Telah lahir…Dengan Rahmat Tuhan Jang Maha Esa, telah lahir dengan selamat pada tanggal 11 Agustus 1971 putera kami jang ketiga. Fickry A. S. Kepada bidan Nj.E.Soebagio tak lupa kami utjapkan terima kasih atas segala bantuan jang telah diberikannja. Keluarga jang berbahagia….bla..bla..bla..”. Tarif iklannya 1 mm/kolom Rp. 40 rupiah. Harga langganannya 250 rupiah…….untuk dalam kota dan luar kota lewat via pos biasa!!!!Kalau via pos udara 275 rupiah saja….Wow!!!!

“Wartawan sekarang enak…kalo dulu mau kirim berita..harus cari taksi dulu..Atau telpon
ke Jakarta ne..belum tentu 2 hari bisa tersambung sama Jakarta..”
“Wah..berarti beritanya gemana tu Pak?”
“Ya..yang bisa dimuat biasanya yang longlife. Jadi kalo kira-kira ndak bisa tersambung dengan Jakarta..ya sudah..berita nya angus…”
“Ndak kayak sekarang telpon tinggal pencet 021…sudah nyambung..ada HP..fax..internet..”
Aku hanya tertawa..
“Sekarang ini surga…dulu percetakannya juga gak sesempurna sekarang. Mesin cetak gak punya huruf yang lengkap. Ada yang gak punya huruf P, ada yang gak punya huruf D..”
“Trus tulisan di korannya gemana tu Pak?”
“Ya..diganti dengan huruf yang mirip. Misalnya Penduduk..percetakan yang gak punya huruf P menggantinya dengan B..jadi bacaannya Benduduk…” hahahaha…jadoel..jadoel…

Sayang Harian Abadi ini tak seabadi namanya..
“Bersama 5 koran lainnya..Indonesia Raya, Jakarta Times, KAMMI, trus apa lagi satu saya
lupa…di bredel karena memuat berita pembongkaran kasus Malari.”
“Aturan bredel waktu itu pake apa Pak.?”
“Ndak pake aturan. Sesudah Indonesia merdeka, pembredelan justru lebih kejam dibanding
jaman penjajahan Belanda. Kalau jaman Belanda ada namanya Press Breidel
Ordonnansi. Kalau ada koran yang menjelekkan pemerintah, pimred langsung yang dipanggil,
disidang, ditunjukkan berita ini hari ini tanggal segini menghina pemerintah.
Lalu diputuskan..koran dibredel dari tanggal sekian sampai tanggal sekian..bisa
cuma seminggu..atau 2 minggu..Jadi karyawan tidak kehilangan mata
pencaharian..Setelah Soekarno menyatakan Pers berjasa besar dalam kemerdekaan
RI, Press Breidel Ordonnansi dihapus. Pas jamannya Suharto..pembredelannya
langsung menyegel percetakan, karyawan jadi korban..” Oalah Suharto..Suharto…

Orang yang menguasai 4 bahasa asing dan rajin membaca majalah TIME ini menilai “Berita
jaman dulu juga lebih menggigit…kalo sekarang lebih banyak talking news
daripada factual news..”

Menarik juga bisa melihat bagian dari sejarah pers di Indonesia dari saksi sejarah. Lebih menarik
lagi…Perwakilan Harian Abadi di Jawa Timur yang pernah menjadi wartawan
Memorandum ini berjanji “ Hari Senin saya bawakan koran terbitan tahun 49….”

Saksi sejarah itu bernama Hasan Altuwy

*Saya memuat tulisan ini di http://dianeka.blog.friendster.com tanggal 11 November 2005*

 

***

Nah…link blog yang saya tulis itu udah gak bisa diakses lagi…xixixi…Tokoh yang saya ceritakan di atas juga sudah almarhum dan saya terlambat sekali dapat beritanya.. Semoga beliau ditempatkan di tempat yang indah di surga…

 

Ramuan Madura..Dari Madura Untuk Indonesia

Suara musik yang menghentak keras perlahan reda.  Barisan ibu-ibu yang berpeluh dan ngos-ngosan pun bubar…mereka duduk seenaknya di pinggir-pinggir ruangan yang dikelilingi kaca. Ada yang langsung meraih handphone-nya, ada yang mengeringkan keringat, ada yang melepas sepatunya dan langsung berganti pakaian.

“Jamunya..jamunya…”suara seorang perempuan menyeruak diantara keriuhan ibu-ibu yang baru selesai senam aerobic.

Berbotol-botol jamu siap minum yang masih hangat pun langsung dicomot ibu-ibu peserta senam. Tak sampai 5 menit semua botol sudah berpindah ke tangan ibu-ibu itu.

“Yang gak kebagian..jangan khawatir..masih ada…”perempuan itupun menghilang sebentar dan kembali membawa beberapa botol berisi jamu. Fresh..Anget..

“Jamu apa sih ini..?”tanya seorang ibu yang tampaknya baru pertama kali ikut senam di tempat itu.

“Jamu untuk perempuan donk…biar sehat..biar badannya wangi..biar rapet…”jawaban penjual jamu yang tidak lain adalah tuan rumah sanggar senam itu spontan disambut tawa ibu-ibu lainnya. “Ayo..dicoba jamunya..”

Jamunya..Jamunya..

Jamunya..Jamunya..

**

Nah..nah..itu tadi salah satu gambaran tradisi minum jamu di Sumenep-Madura. Sudah tak asing lagi kan..dengan Ramuan Madura?? Tradisi minum jamu di kalangan perempuan Madura memang masih bertahan sampai sekarang. Apalagi untuk perempuan yang sudah menikah dan punya anak, minum jamu wajib hukumnya. Bukan hanya untuk membahagiakan pasangannya, tapi yang terpenting adalah untuk menjaga kesehatan perempuan itu sendiri.

Tradisi minum jamu di Sumenep ini, bukan lagi dengan mencegat tukang jamu keliling, atau mampir ke warung jamu dan minum jamu seduhan. Jamu segar bisa dinikmati di sanggar-sanggar senam. Dan jamu pun menjadi sarana pelepas dahaga yang berkhasiat. Kalau kebetulan tak bisa senam, jamu segar masih bisa diantar ke rumah konsumen. Biasanya mereka memesan untuk keperluan 2-3 hari ke depan.

Saya berkesempatan untuk melihat proses pembuatan jamu segar yang dibandrol 6.000 rupiah per botolnya (500 ml). Pembuat jamu bernama Diana ini menyiapkan bahan-bahannya yang cukup banyak jenisnya. Ada daun sirih, sereh, cabe jamu, secang, gula aren, pinang muda, kunyit, kunci pet, manjakani, asam, kapulaga jamu, dll.

Bahan Jamu

Bahan Jamu

Masing-masing bahan menyumbang khasiat yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa bahan yang perlu kita tahu khasiatnya :

Manjakani : Oak Galls, Mecca majakani. Orang Madura menyebutnya Majekani. Mudah didapatkan di pasar tradisional dalam keadaan kering ataupun sudah dalam bentuk serbuk. Buah Manjakani mengandung tannin, anti oksidan, vitamin A dan C, zat besi, dan karbohidrat. Khasiat utama buah manjakani mengatasi keputihan, mengatasi kelebihan cairan dan mengencangkan otot pada organ kewanitaan. Manjakani juga berkhasiat membasmi kista.

Manjakani

Manjakani

Delima Putih : Punica granatum L., orang Madura menyebutnya Delima Pote. Data base di Biofarmaka IPB menyebutkan, buah ini mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, sapoini, tanin, dan triterpenoid. Masyarakat Madura menggunakan bahan ini dalam campuran jamu atau ramuannya (terutama untuk perempuan) karena bermanfaat mengatasi keputihan. Di pasar tradisional, bahan ini dijual dalam keadaan kering ataupun serbuk. Manfaat lain dari Delima Putih adalah obat cacingan, anti bakteri, anti hipertensi, anti diabetes, anti kanker prostat, obat batuk, dll.

Delima Putih

Delima Putih

Cabe Jamu : Piper retrofractum, Cabe Jamu atau Cabe Jawa, salah satu bahan yang menjadi produk andalan Sumenep-Madura. Cabe Jamu yang dimanfaatkan bagian buahnya ini mengandung senyawa alkaloid dan minyak atsiri yang memberikan manfaat meningkatkan stamina. Cabe Jamu yang banyak berperan sebagai paracetamol dapat mengatasi beberapa penyakit seperti liver,diare, encok, dan mengatasi gangguan pencernaan.

Cabe Jamu

Cabe Jamu

Pinang Muda : Betel Palm, Betel Nut Tree, Areca catechu, orang Madura menyebutnya Penang. Buah yang pohonnya biasa digunakan untuk pesta rakyat setiap bulan Agustus ini mengandung senyawa arecolin, tanin, guvacoline, arecolidine, dan unsur bermanfaat lainnya. Pinang muda dimanfaatkan bijinya dan berkhasiat untuk meningkatkan stamina, mengatasi keputihan dan bau yang tidak sedap pada organ kewanitaan.

Kunci Pepet : temu rapet, Round rooted Galangal, Kaemferia rotunda, orang Madura menyebutnya Konce Pet. Umbi tanaman ini mengandung saponin, borneol,sineol, metil khavikol, dan minyak atsiri. Pada ramuan atau jamu-jamu Madura, Kunci Pepet ini memberikan khasiat mengencangkan otot organ kewanitaan, mengatasi keputihan, menghilangkan bau tak sedap. Manfaat lain dari bahan ini adalah anti radang, peluruh kentut, dan menyembuhkan luka-luka dan memar.

Kunci Pepet

Kunci Pepet

Bahan-bahan lain dalam ramuan ini sudah dikenal luas manfaatnya, seperti daun sirih dan kunyit sebagai antibiotik alami. Bahan lain digunakan sebagai penambah warna, aroma, dan rasa, seperti asam, gula aren, garam, kayu manis, secang, cengkeh, dan batang sereh.

Beberapa bahan yang dihaluskan diantaranya kunyit, jahe, kunci pet, daun sirih, buah pinang muda, manjakani, dan delima putih. Sementara cabe jamu, kayu manis, cengkeh, asam, dan secang dibiarkan utuh, kecuali sereh yang dimemarkan. Semua bahan direbus kemudian disaring dan didinginkan. Jamu pun siap dikonsumsi.

Rasanya seperti apa? Ada sedikit manis, ada pahit, ada pedas, dengan aroma yang khas jamu. Setelah meminum jamu ini secara rutin.. badan terasa segar. Manfaat lainnya? Rasakan sendiri dengan mencoba ramuannya 😉

**

Cara meminum jamu segar seperti ini adalah bagian dari tradisi di Madura, terutama Sumenep. Jamu ataupun ramuan Madura sudah menjadi kebutuhan wajib bagi masyarakat disini, terutama kaum perempuan. Sejak masa menstruasi pertama sudah dikenalkan jamu-jamu yang bermanfaat untuk kesehatan perempuan (kalau sinom, beras kencur..sudah menjadi minuman sehari-hari anak-anak). Berbagai macam ramuan untuk perawatan perempuan tersedia dalam kemasan yang sangat sederhana dan dalam satu paket, diantaranya :

  • Perawatan rambut
  • Perawatan tangan
  • perawatan kulit
  • Perawatan pasca melahirkan
  • Perawatan pra-nikah

Tak heran apabila disini saya tidak banyak menemukan gerai-gerai perawatan khusus wanita seperti Salon dan Spa yang memberikan paket perawatan pra nikah. Karena umumnya mereka melakukan perawatan sendiri di rumah, termasuk ratus dan lulur.

Harga dari masing-masing paket perawatan juga tidak kalah mahal dengan produk-produk nasional yang sudah terkenal, seperti Mustika Ratu atau Sari Ayu. Misalnya untuk paket perawatan pasca melahirkan yang berisi jamu untuk rahim, kelancaran ASI, dan kesehatan tubuh untuk pemakaian selama 40 hari, dengan kemasan biasa tanpa ada merk sudah dibandrol sekitar 300-400 ribu rupiah. Begitu juga dengan perawatan pra-nikah yang dilengkapi dengan lulur, dupa rambut, ratus, dan jamu untuk kesehatan tubuh, yang biasanya wajib dikonsumsi 2-3 bulan sebelum tanggal pernikahan.

Untuk keasliannya, tak perlu diragukan lagi. Karena para pembuat jamu benar-benar memperhatikan kualitas bahan dan kebersihan selama proses pembuatan. Meskipun ada beberapa pelaku industri yang diketahui mencampur ramuannya dengan obat tertentu dengan tujuan memberikan efek instan kepada pemakainya. Bukankah kita semua tahu, pada umumnya obat-obatan tradisional tidak akan memberikan efek yang instan. Untuk kemasan saja saya melihat ada perkembangan sejak beberapa tahun terakhir. Jamu-jamu dikemas dalam bentuk kapsul-kapsul sehingga lebih mudah dikonsumsi. Meskipun begitu konsumen masih bisa memilih bila ternyata lebih menyukai jamu seduh. Karena pembuat jamu tetap menyediakan jamu serbuk yang bisa diseduh dan dicampur dengan bahan lain seperti madu.

Dari gambaran kehidupan masyarakat Madura, terutama Sumenep yang sangat akrab dengan jamu, saya bisa menyimpulkan kalau jamu atau ramuan Madura sudah menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Hal ini penting sebelum memasyarakatkan penggunaan jamu di luar Madura. Perbaikan demi perbaikan perlu dilakukan agar jamu-jamu dari Madura ini lebih diminati lagi oleh masyarakat luas. Baik dalam hal kualitas jamu maupun kemasannya. Karena sesungguhnya ramuan Madura sudah sangat populer di Indonesia.

Sudahkah Anda minum jamu hari ini? Saya sudah.. 😉

Biofarmaka IPB

Biofarmaka IPB

Daftar Pustaka

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal,
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Majakani

http://ditjenbun.deptan.go.id/tanregar/berita-202-cabe-jamu-sebagai-obat-tradisional-.html

#DearDaughter…I Dedicate My Love For You My Girls..

Dag..dig..dug..membaca pesan dari teman baru Mak Wylvera setelah saya mengkonfirmasi pertemanan. Dagdigdug nya senada dengan yang muncul ketika mengkonfirmasi pertemanan Mak Indah Julianti..Dagdigdug senada yang muncul  setiap membaca kisah berantai #deardaughter dari Kumpulan Emak Blogger. Kisah-kisah yang mengharu biru, menginspirasi, dan berhasil membuat galau. Aihh galau…?Semakin galau ketika harus memulai menceritakan sebuah kisah nyata..haha..siapa suruh antri #deardaughter yak….Oklelaahh… Mari kita lariiii….

Nareswari Yudita Al-Halimi..

Nareswari

Nareswari (7 September 2007)

Kakak…waktu kakak masih di perut Bunda..kakak paling anteng, gak rewel. Waktu itu Bunda masih kerja ya Kak..jadi lah kakak ikut kemana-mana. Naik kereta ke Cirebon..oke..Naik travel ke Bandung..hayukk..terbang ke Surabaya, Aceh, Jogja..happy.. Waktu ikut Bunda tugas di Jember, ke daerah Silo yang di pucuk gunung, jalan berbatu, balik ke hotel sampai malam, kakak adem ayem…Di Aceh juga begitu ya Kak..Waktu itu Bunda tugas ke Pulau Nasi, wah..bermalam di rumah kepala desa yang lantainya kayu. Kita tidur begitu saja ya kak tanpa alas kasur empuk, kerasss banget ya lantai kayu itu rasanya. Hehe..Bunda merasakan kamu nggak betah sebenarnya tidur seperti itu..Tapi cuma semalem..tahan ya kak J Nah..besoknya kita balik ke Banda Aceh pake perahu nelayan kecil bareng teman Bunda 3 orang perempuan Aceh..Cuma 1 jam perjalanan sih…tapi terasa lamaaa…karena ombak gede..dan arus dari Laut Andaman yang sedang berbalik ke arah Samudera Indonesia membuat bapak yang mengendalikan perahu begitu tegang. Arusnya seperti sungai mengalir derasss…perahu yang kita tumpangi harus memotong arus itu. Lolos dari arus ..terasa sekali ayunan ombaknya di tengah laut yang biru tua. Bunda cuma bisa diam dan mengajak kakak berdoa..semoga kita selamat. Alhamdulillah ya kak..akhirnya kita sampai juga dengan selamat di Pelabuhan (Bunda lupa namanya…yang pasti bukan Ulee Lheue)..Tepat di saat perahu bersandar, mesinnya mati dan ketahuan olinya habis karena bocor selama di perjalanan. Duh…Alhamdulillah banget ya kak pokoknya…Tapi besoknya kita ganti ketegangan itu dengan bikin liputan di Sabang..Wah seru ya kak kita sampe di Titik Nol nya Indonesia..Bunda juga bersyukur banget tidak ada sedikitpun keluhan selama kakak ikut Bunda kerja keliling kayak gitu. Sampe petugas bandara Adi Sucipto nyaris melarang kita terbang kembali ke Jakarta karena umur kakak di perut sudah 8 bulan lebih, Bunda gak bawa surat keterangan dokter kalo masih boleh terbang…  Ya itu perjalanan terakhir kita ya kak..Karena setelah itu Bunda udah cuti, kakak lahir..tepat saat kontrak kerja di Internews tempat Bunda kerja habis, dan kantor Internews Indonesia closed karena memang tugasnya sudah selesai. Pas banget..Begitu kakak lahir..Bunda gak kerja lagi..Allah memang Maha Mengatur.

Jadilah hari-hari berikutnya Bunda total mengurus kakak. Tanpa pembantu. Sepulang dari rumah sakit, Bunda sudah bisa memandikan kakak. Semuanya Bunda bisa lakukan sendiri. Kecuali…memberikan ASI yang seharusnya sampai 2 tahun..Kakak cuma merasakan ASI sekitar 2 bulan saja. Tapi selebihnya..Bunda lakukan smuanya dengan senang hati..apalagi begitu tahu kakak doyan banget makan. Gak pake susah nyuapin kakak. Sampe suatu saat kakak gak doyan makan. Mengherankan. Buka mulut aja ogah-ogahan..padahal biasanya makan paling butuh waktu paling lama 10 menit. Itu kakak umur 7 bulanan lah..Tapi Bunda terus berusaha biar kakak doyan makan lagi..Meksi Bunda waktu itu berasa lagi ada yang nggak beres dengan badan Bunda. Bawaannya cepet capek aja. Ditambah dengan gangguan jadwal menstruasi. Setelah cek dan ricek..wahh ternyata kakak mau punya adek..baru ketahuan setelah adek umur 4 bulan, kakak baru mau umur 1 tahun. Yah..campur aduk lah rasanya…

Selama masa kehamilan adek..bunda berusaha memberikan perhatian ke kakak sebaik mungkin. Jaga-jaga biar kakak gak cemburu sama adek nanti.

Aliyya Kinar Maulidyta

Kinar

Kinar (26 Februari 2009)

Berbeda dengan masa kehamilan kakak, selama hamil adek..waktu bunda lebih banyak di rumah. Umek dengan pekerjaan rumah tangga. Bedanya juga..kalau kakak selama di perut anteeeennnggg banget..nah..adek agak pecicilan nih di perut. Saking pecicilannya pas lahiran sampe kesenggol alat dan kepala adek jadi benjol gitu. Kalau kakak lahir normal, adek lahir lewat operasi sesar cuma gara-gara Bunda gak kuat nahan sakit. Nyerah dan minta operasi dadakan aja, 30 menit selesai. Berhubung benjolnya gak kempes-kempes..akhirnya disedot tuh cairan yang ada di kepala adek. Alhamdulillah dan mudah-mudahan tidak ada efek apa-apa sampai besar nanti.

Bunda bahagia sekali melihat kakak-adek bisa main bersama mulai dari kecil. Kakak tidak ada rasa cemburu, meski harus ditempuh dengan menempatkan kakak-adek 1 kamar, terpisah dengan Bunda. Yah..tak apalah..Bunda yang mondar-mandir ngasi ASI kalo adek terbangun tengah malam. Adek lumayan nih dapet ASI nya 5 bulanan..tetep disyukuri ya.. 🙂 Urusan makan..adek juga gampang banget..samalah sama kakak.

Dan sekarang Nares (6 tahun) dan Kinar (4,5 tahun) tumbuh jadi anak yang riang, selalu gembira meski kadang rewel dan bandel hehehe…

Apalagi di tempat kita tinggal setahun terakhir ini..di Madura. Kalian lebih bebas bermain, dikelilingi orang-orang yang selalu siap membantu dan mencurahkan perhatian dan kasih sayang. Bunda yakin pendidikan dan lingkungan disini jauh lebih baik untuk kalian berdua. Bahwa disini gak ada mall atau tempat bermain seperti disana…gak ada Pizza Hut..gak ada Mc.D, gak ada KFC..tak apalah ..toh semua itu bukan makanan yang sehat buat kalian. Kalau pengen yang kayak gitu-gitu..ya adanya di Surabaya nak…4 jam perjalanan dari tempat kita tinggal.. 🙂

Saat ini Bunda sedang membayangkan..kalau suatu saat nanti ketika kalian cukup dewasa..yaaa sekitar usia SMP lah..kita bisa umroh bareng..dan disanalah Bunda akan menceritakan secara gamblang tentang alasan Bunda memilih membawa kalian ke Madura, berkumpul bersama Eyang dan Kakung. Meninggalkan hiruk pikuk Jakarta, meninggalkan pekerjaan Bunda disana, memindahkan sekolah kalian disini. Karena bagi Bunda kalian adalah segalanya…Semua kepentingan kalian diatas kepentingan lainnya. Bunda sudah tak berpikir lagi tentang harta yang sudah kita ikhlaskan dan tinggalkan begitu saja disana. Kita bisa cari harta lagi Nak.. dengan usaha dan doa..

Maafkan Bunda ya..kalau sampai sekarang Bunda belum bisa memenuhi beberapa keinginan kalian…Bunda sedang berusaha… Bunda juga hanya bisa menceritakan yang baik-baik saja tentang apa yang sudah kita alami… Selebihnya..akan ada saatnya nanti… Ayo…semangat mengejar cita-cita..I Love You My Girls…

 

My Girls

My Girls

Well…tongkat estafet #deardaughter berikutnya saya serahkan ke Emak Ayu Muna Sungkar. Cuuuzzz yuk ke TKP….