Apppaaa?? Salon Thai??

Inilah tantangan hari pertama #10daysforASEAN# :

Bagaimana kalau di sekitar perumahan kamu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat Nasional apakah akan menggeser salon lokal ? Apa analisismu ?

Untuk menjawab pertanyan tersebut, saya melempar pertanyaan ke beberapa teman melalui Blackberry Mesenger. Ada 16 responden saja yang saya libatkan untuk menjawab pertanyaan. Teman-teman yang saya pilih untuk menjadi responden adalah warga Sumenep-Madura tempat saya tinggal sekarang, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, usia diatas 30 tahun, latar belakang pendidikan bervariasi mulai SMA sampai S2, dan pekerjaan mulai ibu rumah tangga, PNS, guru, karyawan swasta, dan wirausaha.

Dalam beberapa menit saya mendapat respon yang berbeda-beda. Ada yang merespon dengan tidak bisa memberikan pendapat, ada yang merespon dengan serius sehingga bisa menjawab pertanyaan selanjutnya,ada juga yang tidak merespon. Berikut ini ringkasan jawaban responden :

  1. Belum tentu, tergantung service dan trust, apalagi masyarakat Sumenep budayanya kuat tidak mudah berpaling.
  2. Belum tentu, karena setiap usaha (salon) pasti punya pangsa pasar tersendiri.
  3. Tergantung, pasar Sumenep menyukai barang dengan harga murah dan kualitas bagus. Kalaupun ada salon baru orang ramai untuk coba-coba aja ingin tahu kualitas pelayanan.
  4. Karena euforia produk baru (LN), tapi selanjutnya akan terjadi seleksi alam. Kalau ternyata produknya kualitas baik dan harga kompetitif maka akan mendapat tempat di hati konsumen.
  5. Tidak akan berpengaruh, karena salon lokal umumnya sudah mempunyai pelanggan tetap. Kecuali produk yang ditawarkan benar-benar baru dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  6. Seperti halnya kita buka toko, tetangga juga buka toko, semua rejekinya sudah diatur Allah. Seandainya yang dari Thailand lebih diminati ketimbang salon lokal itu harus kembali ke dirinya sendiri. Bisa dengan memperbaiki manajemennya.
  7. Secara logika, Ya. Karena masyarakat kita gaya hidupnya suka latah apalagi dengan produk-produk yang berbau impor.
  8. Apa??Salon Thai?Dimana itu..mau donk.. 🙂

Khusus untuk jawaban responden nomer 8, biasa aja kalee..di Bali aja sudah ada salon nya Paris Hilton….

Dari serangkaian jawaban tersebut saya bisa menyimpulkan, bahwa tidak ada kekhawatiran warga (konsumen) terhadap keberadaan salon-salon dari Thailand. Karena banyak hal yang harus dipertimbangkan, misalnya selera, kebutuhan, dan daya beli masyarakat itu sendiri. Apabila keberadaan salon-salon dari luar tidak menyesuaikan dengan ketiga hal tersebut, bukan tidak mungkin salon-salon tersebut akan sukses angkat kaki. Meskipun ada kecenderungan masyarakat untuk ‘mencoba’ sebagai bentuk euforia terhadap hal baru, tapi itu akan bersifat sementara. Masyarakat pada akhirnya akan menentukan pilihan, menjadi cocok dengan hal baru atau sebaliknya kembali pada produk lokal. Akan berbeda kondisinya bila salon-salon tersebut memberikan layanan sesuai dengan selera, kebutuhan, dan daya beli masyarakat, bisa saja menarik minat masyarakat untuk selalu dilayani di salon tersebut.

Salon lokal sebaiknya juga berbenah diri apabila ternyata masyarakat akhirnya memilih menyukai salon asing. Meningkatkan pelayanan, meningkatkan promosi, membuat keunikan produk dan layanan, atau melakukan hal-hal penting lainnya untuk meningkatkan daya saing. Keberadaan salon asing justru harus dijadikan cambuk untuk terus meningkatkan kualitas. Mereka bisa melakukannya dengan atau tanpa peran pemerintah lokal.

Nah..peran pemerintah lokal tentu saja sangat besar. Di satu sisi bisa saja pemerintah melindungi usaha lokal dengan membuat peraturan ketat untuk masuknya usaha asing. Tetapi ketika pemerintah tak punya pilihan lain untuk membuka pintu selabar-lebarnya terhadap masuknya usaha asing, tak ada pilihan lain juga untuk mengimbanginya dengan kebijakan untuk meningkatkan daya saing usaha lokal. Bukan melulu tentang bantuan modal, tapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan hal lain yang sangat dibutuhkan usaha lokal.

Inilah pentingnya memahami konsep pembentukan ASEAN Community atau Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lainnya. Pemahaman bukan saja ditanamkan di tingkat pusat atau di kota besar, tapi juga ke seluruh pelosok negeri. Karena kerentanan justru ada pada wilayah pelosok..eh..atau sebaliknya ya..karena masyarakat di kota besar lebih mudah menerima kehadiran produk asing. Bukankah lebih mudah menemukan bermacam-macam produk asing di kota besar daripada di daerah? Yah..apapun itu..alangkah lebih bijaksananya bila kita menyibukkan diri dengan meningkatkan kemampuan diri untuk bersaing daripada membuat pagar pembatas.. Karena dengan meningkatkan kapasitas diri sendiri (baca: bangsa) kitalah yang akan menjadi ancaman dan tantangan bagi bangsa lain minimal di tingkat ASEAN. Seperti yang sudah dilakukan Martha Tilaar dengan Dewi Sri Spa nya yang sudah merambah Malaysia. Next?

Advertisements

2 thoughts on “Apppaaa?? Salon Thai??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s