Kolaborasi Kopi

#10daysforASEAN

Inilah tantangan hari ke-5 :

Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.

Tuliskan pendapatmu di blog tentang kemampuan Indonesia dan Vietnam merebut pangsa pasar kopi di dunia, berkaitan dengan Komunitas ASEAN 2015. Tidak hanya bersaing tetapi bisa juga menjadi partner bersama. 

kopi 1-academy.kopi.co.uk

Sebelum mengulas tentang perkopian mari kita sruput dulu secangkir kopi..sllrrruuuupp….

Bahwa 3 negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah Brazil, Vietnam, dan Indonesia, seluruh dunia sudah tahu. Indonesia memiliki luas lahan kopi sekitar 1,2 juta hektar dengan produktivitasnya sekitar 700-800 kg per hektar. Sementara Vietnam dengan luasan yang lebih kecil, sekitar 500 ribu hektar mampu menghasilkan sampai 3 ton per hektar.

Untuk bisa bersaing dengan 2 negara penghasil kopi diatas Indonesia, maka Indonesia harus melihat dulu apa yang menyebabkan produktivitas kopi Indonesia sedemikian rendahnya. Inilah beberapa penyebabnya :

  • pengelolaan perkebunan kopi di Indonesia 90 % adalah perkebunan rakyat dan masih tradisional.
  • petani kopi juga belum banyak yang menggunakan bibit unggul sehingga produktivitas kopinya cenderung kurang.
  • umumnya kebun kopi di Indonesia juga berisi tanaman kopi tua (lebih dari 20-30 tahun) yang tingkat produksinya sudah berkurang.

Dari analisa sederhana tersebut, maka sudah bisa diperkirakan apa yang harus diperbuat Indonesia untuk meningkatkan produktivitas kopi. Indonesia sangat perlu meningkatkan intensfikasi produksi kopi, meremajakan tanaman kopi dengan bibit-bit unggul. Ketika produktivitas sudah tinggi dan stabil, perlu diimbangi dengan tingkat konsumsi kopi nasional yang masih rendah. Hal ini untuk mencegah turunnya harga akibat hasil kopi yang melimpah.

Selain meningkatkan konsumsi kopi nasional, sebuah peluang juga bisa digarap bersama Vietnam yaitu meningkatkan penjualan kopi instan. Karena kebutuhan kopi instan dunia cenderung meningkat. Hal ini juga menjadi jalan keluar ketika produksi kopi (terutama robusta) di kedua negara melimpah sebagai akibat keberhasilan intensifikasi. Vietnam juga bisa belajar banyak dari Indonesia untuk menghasilkan kopi luwak yang sudah menjadi trade mark Indonesia. Karena itu peluang Indonesia dan Vietnam masih sangat besar untuk menjadi raja produsen kopi menyaingi Brazil. Mengingat trend minum kopi di dunia terus meningkat seiring dengan menurunnya tren minum soda, karena alasan kesehatan atau alasan penting lainnya.

Komunitas ASEAN 2015 akan sangat membantu proses kolaborasi ini. Kemudahan aksesbilitas ekonomi dan politik antara Indonesia dengan Vietnam menjadi jalan bagi percepatan peningkatan agroindustri kopi ASEAN. Pola konsumsi kopi masyarakat ASEAN juga dengan mudah akan ditingkatkan dengan upaya-upaya sosialisasi yang atraktif dan membumi. Saya sendiri optimis ini bisa terjadi, selama Indonesia (pemerintah) juga serius menjalankannya dan tidak menjadikan kopi sebagai komoditas politik..haha..sedikit teringat kasus korupsi terbaru yang melibatkan bibit kopi sebagai alat korupsi..hikss..

Jadi kalau kebiasaan minum di Amerika bisa tergantikan dengan minum kopi..apalagi di Indonesia atau ASEAN yang kopinya melimpah dan beragam…Anda sendiri sudah minum kopi belum hari ini ? 😉

 

 

Advertisements

Bebas Visa ke Myanmar..Tinggal Tunggu Waktu Saja

#10dayforASEAN day 4

Ini di tantangan hari ke-4 :

Hampir semua negara di ASEAN, telah membebaskan pengurusan visa bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke negaranya, namun tidak dengan Myanmar. Kenapa ya, berwisata ke Myanmar tidak cukup dengan mengandalkan paspor saja? Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata?

Wah..menjawab tantangan hari ke-4 #10daysforASEAN ini membuat saya jadi pengen mengunjungi satu per satu negara-negara ASEAN. Secara negara-negara ASEAN sudah membebaskan visa untuk negara-negara anggota. Eittsss..kecuali Myanmar ya? Yup, Myanmar satu-satunya yang masih mensyaratkan visa untuk bisa masuk ke negaranya. Apa sih yang membuat Myanmar sampai sekarang masih belum seterbuka negara ASEAN lainnya? Padahal banyak potensi (pariwisata) di Myanmar.

Dugaan saya adalah karena Myanmar  sedang berada dalam masa transisi dari pemerintahan militer ke pemerintahan demokratis, ditambah dengan kesibukan Myanmar menghadapi konflik di negaranya sendiri. Konflik terbaru yang menjadikan kaum Rohingnya sebagai korban memunculkan dugaan adanya upaya genosida. Selain itu konflik yang melibatkan kaum Kachin, juga konflik suku Karen. Konflik..konflik..dan konflik..

Keterbukaan Myanmar terhadap dunia luar baru dilakukan 2-3 tahun terakhir setelah mengisolasi diri selama sekitar 60 tahun. Jadi harap maklum apabila sampai sekarang Myanmar belum memberikan kebijakan bebas visa untuk pengunjung termasuk pengunjung dari negara serumpunnya ASEAN. Bebas visa baru diterapkan untuk keperluan diplomatik dan kedinasan saja. Myanmar hanya butuh sedikit waktu untuk bisa berbaik hati kepada para tetangganya agar bisa masuk tanpa visa. Yakin hanya butuh sedikit waktu? Iyalah..secara Myanmar disetujui  oleh pemimpin ASEAN untuk menjadi Ketua (chairmanship) ASEAN 2014 dan menjadi tuan rumah KTT ASEAN 2014. Padahal semestinya tahun 2014 yang menjadi Ketua giliran Laos dan 2016 barulah Myanmar. Tapi Laos dan negara ASEAN lainnya memberikan kesempatan kepada Myanmar. Hal-hal seperti inilah yang diharapkan juga akan mendorong kesiapan negara-negara ASEAN menyambut ASEAN Community 2015. Wah…dukungan negara-negara ASEAN tidak tanggung-tanggung ya.. untuk membuat Myanmar lebih cepat terbuka. Kalau sudah demikian rasanya tak lama lagi status ‘bebas visa’ minimal untuk negara-negara ASEAN untuk masuk ke Myanmar sudah bisa berlaku.

Jadi sementara ini, sebelum bebas visa diberlakukan untuk kunjungan wisata atau bisnis, ya ikuti saja aturan main untuk bisa menikmati indahnya Myanmar. Karena kebijakan diperlukan visa atau tidak untuk wisata (atau untuk keperluan lain) tergantung kebijakan masing-masing negara. Ketentuan pengurusan visa pun berbeda antara satu negara dengan negara lain. Maka bila ingin ke Myanmar, siapkan saja kelengkapan persyaratan pengajuan visa untuk ke Myanmar yang membutuhkan proses sekitar 3 hari dengan biaya 200 ribu rupiah. Kalau itu wajib ya harus dilakoni. Visa on Arrival Myanmar juga bisa diurus saat tiba di 2 bandara internasional Myanmar, Mandalay dan Yangon.

Baiklah..sambil menunggu Myanmar bebas visa untuk negara-negara ASEAN..rasanya saya harus siapkan kelengkapan untuk membuat paspor dulu nih..;) *ketahuan belum punya paspor*

Indonesia, True Paradise

#10daysforASEAN day 3

Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN.  

Baiklah…Bicara tentang tagline untuk keperluan branding tujuan wisata di Indonesia tidak bisa selesai dengan hanya membuat tagline dan artinya. Apalagi bila tujuannya adalah bersaing dengan negara lain yang sudah punya branding kuat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari luar negeri. Tagline Indonesia akan bersaing dengan :

  • Malaysia dengan Trully Asia nya
  • Singapura dengan Uniquely Singapore nya
  • Thailand dengan Amazing Thailand nya

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia punya..beberapa malah ..bukan cuma 1 tagline. Visit Indonesia Year 1991, Indonesia: Ultimate in Diversity, Kenali Negerimu Cintai Negerimu, dan Wonderful Indonesia. Nah..mungkin karena banyak inilah.. jadi tidak ada yang melekat menjadi branding. Sementara Malaysia memakai tagline Truly Asia sejak 2006 sampai sekarang.

Memang yang dibutuhkan produk (pariwisata Indonesia) bukan sekedar tagline yang indah dan menarik. Tapi lebih dari itu, hal-hal yang terkait dengan pariwisata itu sendiri harus menunjang. Apa saja? Kebijakan pemerintah, konsep pariwisata dan pengembangannya, serta kesiapan masyarakat.  Membuat tagline untuk brand nation juga membutuhkan proses yang tidak sederhana dan biaya yang tidak sedikit. Tapi apabila proses dan implementasinya dilakukan dengan sungguh-sungguh hasilnya tentu saja sangat luar biasa. Muhammad Iqbal, salah seorang praktisi perhotelan dan pegiat pariwisata menguraikan, ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk sampai pada pemilihan tagline branding, yaitu :

  1. Audit atau research sebagai langkah awal yang paling menentukan, meliputi  Consumer Research, Communication Audit, Competitive Review, Stakeholders Audit, Facilities Audit, External Poll.
  2. Penetapan visi , sesuai dengan hasil audit.
  3. Eksplorasi tagline, disesuaikan dengan penetapan visi.
  4. Brand guidelines, merupakan langkah akhir penentuan brand. Disini brand yang sudah dihasilkan diterjemahkan standart aplikasinya, berupa pemilihan desain, bahasa, warna, huruf, simbol, penyampaian, atmosfer, suara, dsb.
  5. Master plan destination marketting communication,  brand yang sudah jadi dikomunikasikan dengan sistematis, terencana, terintrgrasi, tepat sasaran, dan terstruktur.

 

Jadi..kalau saya diminta untuk membuat tagline yang cocok untuk Indonesia, katakanlah sudah dan akan melalui tahapan-tahapan yang disebutkan tadi ya…hehe. Dan tagline nya adalah….Indonesia True Paradise. Sebenarnya saya tertarik menjadikan branding Jogja Never Ending Asia sebagai branding nastion menjadi Indonesia Never Ending Asia..tapiii…hmmm..terlalu mirip punya Malaysia yang sudah lebih ngetop dan begitu melekatnya di seluruh dunia serta sukses meraup puluhan juta wisatawan asing. Sudah pasti akan dikira meniru.

Jadi..tagline Indonesia True Paradise sebagai brand nation menurut saya sangat tepat karena obyek pariwisata di Indonesia tak ada tandingannya, apalagi untuk level ASEAN. Wisata alam seperti Raja Ampat, Taman Laut 17 Pulau Riung, Banda Neira, Pulau Komodo, Pulau Sipora Mentawai, gugusan gunung dari Sumatera sampai Papua, hanya Indonesia yang punya. Negara ASEAN lainnya..tidak punya. Belum wisata budayanya dengan kekayaan seni tradisi yang begitu melimpah. Belum kulinernya. Di dunia pun tak ada yang se komplit Indonesia. Dengan tagline tersebut Indonesia menjadi paradise bukan hanya di lingkup Asia tapi juga dunia.

Penggunaan tagline Indonesia True Paradise juga bukan hanya untuk 1-2 tahun, tapi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Meskipun ada pergantian beberapa periode pemerintahan, tagline ini masih dipakai agar tidak bernasib seperti tagline sebelumnya. Promosi yang dibuat juga harus gencar dan kontinyu. Dengan tahapan serius dan proses promosi yang terarah dan terintegrasi didukung kebijakan pemerintah,pengembangan daerah tujuan wisata, dan partisipasi masyarakat Indonesia sendiri, yakinlah tagline Indonesia True Paradise mampu menarik wisatawan asing dan domestik lebih daripada yang sudah dicapai Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan India.

Serumpun tapi Tak Sama

Tantangan hari kedua #10daysforASEAN :

Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada.  Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

Inilah pendapat saya :

Bahwa negara-negara di ASEAN serumpun, sudah pasti iya. Tanda-tandanya apa? Tentu saja bukan hanya ditemukan pada Candi Borobudur di Indonesia dan Angkor Wat di Kamboja. Meskipun menurut saya Angkor Wat lebih mirip Candi Prambanan, apalagi tujuan pendirian kedua candi juga nyaris sama. Angkor Wat dan Candi Prambanan dibuat untuk tempat suci umat Hindu, sementara Borobudur untuk umat Budha. Tapi secara umum candi-candi di Asia Tenggara memang nyaris sama dipengaruhi Hindu dan Budha, seperti Candi-candi di Lembah Bujang Kedah Malaysia, Thailand, Myanmar, Burma, dan tempat lainnya di Asia Tenggara.

Bukan hanya candi yang menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN adalah serumpun atau se nenek moyang atau sekeluarga. Berbagai kesamaan atau setidaknya kemiripan di negara-negara ASEAN jelas menunjukkan kalau negara-negara ini serumpun. Apa kesamaannya?

  • Sejarah, negara-negara di ASEAN sama-sama berawal dari kerajaan Agraris dan Maritim dengan pengaruh kuat India dan Cina, sebelum masa penjajahan bangsa Eropa.
  • Seni dan Budaya, karena kesamaan latar belakang sejarah maka banyak peninggalan-peninggalan yang juga nyaris sama dengan pengaruh Hindu, Budha, dan Islam . Karya seni tari dan musik diantara negara-negara ASEAN mempunyai banyak sekali kemiripan.
  • Bahasa dan Sastra, bahasa sansekerta sama-sama menjadi bagian dari sejarah negara-negara ASEAN. Kisah-kisah wayang kulit di Malaysia, Indonesia, Kamboja, dan Thailand berasal dari sumber yang sama, yaitu India.
  • Ekonomi, negara-negara ASEAN sama-sama dalam kondisi berkembang.
  • Selain karena faktor sejarah, persamaan yang ada di negara-negara ASEAN karena faktor penduduk. Warga Indonesia yang tinggal di Malaysia membawa budayanya dan berkembang dengan luas.

Kesamaan dalam berbagai aspek ditambah posisi geografis yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dan kekayaan sumber daya alam (kecuali Singapura ya…) juga menjadi dasar awal pembentukan ASEAN. Sampai sekarang perkembangan masing-masing negara ASEAN belum sejajar, masih banyak yang perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing dengan negara maju. Dan yang terpenting adalah dengan berbagai upaya yang sudah dan akan dilakukan, salah satunya pembentukan ASEAN Community 2015, mampu menjadikan ASEAN sebagai komunitas yang berorientasi pada kepentingan dan memberikan manfaat pada rakyat, berpusat pada rakyat, dan digerakkan pada rakyat.

Apppaaa?? Salon Thai??

Inilah tantangan hari pertama #10daysforASEAN# :

Bagaimana kalau di sekitar perumahan kamu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat Nasional apakah akan menggeser salon lokal ? Apa analisismu ?

Untuk menjawab pertanyan tersebut, saya melempar pertanyaan ke beberapa teman melalui Blackberry Mesenger. Ada 16 responden saja yang saya libatkan untuk menjawab pertanyaan. Teman-teman yang saya pilih untuk menjadi responden adalah warga Sumenep-Madura tempat saya tinggal sekarang, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, usia diatas 30 tahun, latar belakang pendidikan bervariasi mulai SMA sampai S2, dan pekerjaan mulai ibu rumah tangga, PNS, guru, karyawan swasta, dan wirausaha.

Dalam beberapa menit saya mendapat respon yang berbeda-beda. Ada yang merespon dengan tidak bisa memberikan pendapat, ada yang merespon dengan serius sehingga bisa menjawab pertanyaan selanjutnya,ada juga yang tidak merespon. Berikut ini ringkasan jawaban responden :

  1. Belum tentu, tergantung service dan trust, apalagi masyarakat Sumenep budayanya kuat tidak mudah berpaling.
  2. Belum tentu, karena setiap usaha (salon) pasti punya pangsa pasar tersendiri.
  3. Tergantung, pasar Sumenep menyukai barang dengan harga murah dan kualitas bagus. Kalaupun ada salon baru orang ramai untuk coba-coba aja ingin tahu kualitas pelayanan.
  4. Karena euforia produk baru (LN), tapi selanjutnya akan terjadi seleksi alam. Kalau ternyata produknya kualitas baik dan harga kompetitif maka akan mendapat tempat di hati konsumen.
  5. Tidak akan berpengaruh, karena salon lokal umumnya sudah mempunyai pelanggan tetap. Kecuali produk yang ditawarkan benar-benar baru dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  6. Seperti halnya kita buka toko, tetangga juga buka toko, semua rejekinya sudah diatur Allah. Seandainya yang dari Thailand lebih diminati ketimbang salon lokal itu harus kembali ke dirinya sendiri. Bisa dengan memperbaiki manajemennya.
  7. Secara logika, Ya. Karena masyarakat kita gaya hidupnya suka latah apalagi dengan produk-produk yang berbau impor.
  8. Apa??Salon Thai?Dimana itu..mau donk.. 🙂

Khusus untuk jawaban responden nomer 8, biasa aja kalee..di Bali aja sudah ada salon nya Paris Hilton….

Dari serangkaian jawaban tersebut saya bisa menyimpulkan, bahwa tidak ada kekhawatiran warga (konsumen) terhadap keberadaan salon-salon dari Thailand. Karena banyak hal yang harus dipertimbangkan, misalnya selera, kebutuhan, dan daya beli masyarakat itu sendiri. Apabila keberadaan salon-salon dari luar tidak menyesuaikan dengan ketiga hal tersebut, bukan tidak mungkin salon-salon tersebut akan sukses angkat kaki. Meskipun ada kecenderungan masyarakat untuk ‘mencoba’ sebagai bentuk euforia terhadap hal baru, tapi itu akan bersifat sementara. Masyarakat pada akhirnya akan menentukan pilihan, menjadi cocok dengan hal baru atau sebaliknya kembali pada produk lokal. Akan berbeda kondisinya bila salon-salon tersebut memberikan layanan sesuai dengan selera, kebutuhan, dan daya beli masyarakat, bisa saja menarik minat masyarakat untuk selalu dilayani di salon tersebut.

Salon lokal sebaiknya juga berbenah diri apabila ternyata masyarakat akhirnya memilih menyukai salon asing. Meningkatkan pelayanan, meningkatkan promosi, membuat keunikan produk dan layanan, atau melakukan hal-hal penting lainnya untuk meningkatkan daya saing. Keberadaan salon asing justru harus dijadikan cambuk untuk terus meningkatkan kualitas. Mereka bisa melakukannya dengan atau tanpa peran pemerintah lokal.

Nah..peran pemerintah lokal tentu saja sangat besar. Di satu sisi bisa saja pemerintah melindungi usaha lokal dengan membuat peraturan ketat untuk masuknya usaha asing. Tetapi ketika pemerintah tak punya pilihan lain untuk membuka pintu selabar-lebarnya terhadap masuknya usaha asing, tak ada pilihan lain juga untuk mengimbanginya dengan kebijakan untuk meningkatkan daya saing usaha lokal. Bukan melulu tentang bantuan modal, tapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan hal lain yang sangat dibutuhkan usaha lokal.

Inilah pentingnya memahami konsep pembentukan ASEAN Community atau Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lainnya. Pemahaman bukan saja ditanamkan di tingkat pusat atau di kota besar, tapi juga ke seluruh pelosok negeri. Karena kerentanan justru ada pada wilayah pelosok..eh..atau sebaliknya ya..karena masyarakat di kota besar lebih mudah menerima kehadiran produk asing. Bukankah lebih mudah menemukan bermacam-macam produk asing di kota besar daripada di daerah? Yah..apapun itu..alangkah lebih bijaksananya bila kita menyibukkan diri dengan meningkatkan kemampuan diri untuk bersaing daripada membuat pagar pembatas.. Karena dengan meningkatkan kapasitas diri sendiri (baca: bangsa) kitalah yang akan menjadi ancaman dan tantangan bagi bangsa lain minimal di tingkat ASEAN. Seperti yang sudah dilakukan Martha Tilaar dengan Dewi Sri Spa nya yang sudah merambah Malaysia. Next?