School End…

16 Juni 2013, inilah hari yang ditunggu putri-putriku. Setelah berlatih 2 bulan  lebih, hari ini mereka akan naik panggung dalam acara perpisahan. Sekolah mereka menamai acaranya ‘Tadabur Alam dan Pelepasan’. Nares sebagai siswa TK-B akan tampil di panggung bersama 10 orang temannya membacakan hafalan surat An-Naba (40 ayat) berikut artinya, dan puisi. Sedangkan Kinar yang akan melanjutkan ke kelas TK-A membawakan tari ‘Ceria’.

My Lovely Nares - Kinar

Sekolah mereka berusaha membuat acara pelepasan berbeda dengan sekolah lainnya, bukan di gedung tertutup dan tanpa toga. Hasilnya adalah, acara digelar di sebuah pendopo di pinggir pantai, siswa yang dinyatakan lulus mendapat selempang ‘Aku Bisa’ yang bertuliskan kemampuan masing-masing siswa, undangan duduk lesehan beralas tikar, dan semua siswa yang tampil mengandung unsur ‘go green’, tak ketinggalan juga lomba bakar jagung untuk para ortu yang hadir. How green? Well, Kinar dan teman sekelasnya diminta untuk memakai seragam sekolah dan membawa songket untuk tambahan aksesoris pakaiannya. Di lokasi acara para guru memberikan mahkota dari daun kelapa. Siswa lainnya ada yang memakai mahkota dari daun puring,  ada juga yang menempelkan daun-daun di kostum penari ‘Katak Seldung’ (tarian dengan lagu Kodok Ngorek versi Madura). Sederhana lah pokoknya..jauh dari kesan wah..

Nares and Friends

Kinar and Friends

Selain itu tabung yang digunakan untuk tempat ijazah dan buku alumni yang dibagikan kepada siswa terbuat dari botol plastik bekas minuman soda. Mereka mengumpulkannya dari siswa (setiap siswa diminta membawa 2 botol bekas 3 minggu sebelum acara), dan mengolahnya sedemikian rupa menjadi wadah yang lucu.

Hal-hal seperti itulah yang saya suka dari sekolah ini. Mereka mengajarkan anak-anak untuk memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang bermanfaat. Sampai di rumah tabung eks botol itu jadi mainan sehari-hari, kadang mereka memainkannya seperti boneka yang digendong-gendong.

Recycled

Tapi kesederhanaan acara akhir tahun ajaran ini berbanding terbalik dengan penyediaan fasilitas belajar. Misalnya untuk raport dan buku-buku paket untuk belajar di sekolah. Cukup mewah buatku..meski biaya yang harus dibayar tak semahal di sekolah Nares dan Kinar sebelumnya. Seperti apa kah gerangan? Nanti ya aku ceritakan di tulisan lainnya.

[Prompt #15] Maaf

“Ning…ada tamu..”

“Iya mak…tunggu sebentar..” Ning buru-buru menutup buku yang sedang dibacanya.

Ning berjalan santai ke ruang tamu, masih kosong..lalu berjalan ke teras.

“Cari saya..?”

Ning terkejut begitu melihat sosok yang duduk di teras rumahnya menoleh ke arahnya. Luth… Apa yang membawanya kesini… 20 tahun lebih Ning tak bertemu Luth, tak berkomunikasi sama sekali, dan sekarang dia ada di teras rumahnya.

“Iya..Ning..” Luth hanya tersenyum. Ada kekakuan yang tak bisa disembunyikan. Semakin kaku oleh dinginnya udara pegunungan yang berkabut.

“Aku…” Luth dan Ning bersuara bersamaan.

“Eh..silahkan kamu dulu aja” Ning tertunduk malu.

“Aku mau minta maaf…” Luth akhirnya berani mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Ning.

Ning hanya diam. Tak pernah terpikirkan Luth datang untuk mengucap maaf.

“Aku pasien baru dokter Arin, dokter yang merawatmu di klinik ODHA..Tak sengaja aku melihat namamu di daftar pasiennya. 6 bulan aku rutin bertemu dokter Arin, tapi dokter Arin bilang kamu tak pernah ke Klinik lagi..Katanya kamu enggan memakai ARV lagi. Dokter Arin memang sempat beberapa bulan tak mendapat kiriman ARVdari pusat..tapi sudah 6 bulan ini ada lagi..Tidakkah kamu ingin meneruskan pengobatanmu?”

Ning kaget mendengar uraian Luth. Ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. 6 bulan lalu dia putuskan untuk berhenti memakai ARV, karena suplai obat yang tidak kontinyu membuatnya harus merasakan sakit yang luar biasa setiap akan memulai memakai ARV lagi.

“Maafkan aku Ning… karena aku kamu begini..aku yang mengenalkan narkoba kepadamu..aku yang pertama kali mengajakmu memakai jarum suntik sepulang sekolah waktu itu Ning…Aku..”

“Cukup..Luth” Ning tak mau kisah lamanya bersama Luth menyeruak tanpa bisa dibendung. Luth adalah masa lalunya..dan ia ingin semua kenangan bersamanya terkubur oleh waktu. Sekalipun ia sadar jarum suntik yang dipakainya bersama-sama Luth dulu sudah membawanya pada status pengidap HIV.

“Aku sudah memaafkanmu..jadi..apalagi?”

“Ijinkan aku menebus kesalahanku..Ning. Ijinkan aku menjadi pendampingmu dan menjadi ayah bagi Alena..”

Ning menggeleng lagi,” Maafkan aku Luth..aku nggak bisa.” Sepeninggal Farhan, ayah Alena yang juga pengidap HIV 2 tahun lalu, Ning bertekad tidak menikah lagi. Terlebih Alena sampai sekarang belum terindikasi terinveksi virus mematikan itu. Kebahagiaan yang mutlak bagi Ning.

“Ning..aku akan bertanggung jawab atas apa yang pernah aku lakukan dulu..”

“Tidak. Kamu tidak perlu mempertanggung jawabkan apa-apa..Luth,” Ning tetap tersenyum dan tegas menolak tawaran Luth.” Sudah sore, aku mau mengajar ngaji di musholla.. Maaf ya..” Ning beranjak  dan Luth pun akhirnya pamit pulang, menaiki mobil jeep merahnya , menembus kabut tebal kembali ke arah kota.

Tak sampai 30 menit, Ning sudah sampai di musholla. Bersamaan dengan Pak RT yang datang untuk menjemput beberapa pemuda,” jeep keponakan istri saya masuk jurang ..keponakan saya meninggal di tempat kejadian..tolong 4 orang ikut saya ya..Ya Allah Luth..barusan kamu pamit..disuruh budemu nginep gak mau..”

 

 

Menanam Yuuukk… :)

Hari libur Isra’Mi’raj anak-anakku bermain di rumah saja. Pagi-pagi selesai makan dan mandi, aku biarkan mereka bermain di halaman. Dari dalam rumah aku hanya mendengar mereka tertawa dan sesekali terdengar berebut sesuatu. Ketika aku di dapur, si kakak masuk,

“Bunda aku belajar tanam tanaman..”

“Oya?tanam apa…?”

“Tanam tanaman…di pot botol..”

Hmm…kedengarannya kreatif ya… si kakak ke dapur untuk mencuci tangannya yang penuh tanah. Hasil tanam menanamnya belum ia tunjukkan. Sebentar setelah mencuci tangan, kakak keluar lagi. Sambil berlari kakak membawa hasil tanam menanamnya ke dalam rumah. Kemudian disusul adiknya yang juga membawa hasil tanam-menanamnya.

“Bunda lihat deh tanamanku…” kata kakak dan adik. Kulihat baju kakak dan adik basah karena keringat. Rupanya mereka memasukkan tanah ke botol itu dengan susah payah di bawah terik matahari pagi.

“Waaaww…sip..!” aku berkata sambil melihat satu-persatu ‘pot’ mereka. Lalu anak-anak sibuk mencari gelas plastik bekas air mineral untuk menyiram tanamannya. Aku tak tahu pot botol yang mereka pakai dari mana.

Kapan-kapan kita bikin kebun beneran ya nak…:) Gambar

Taman Hutan Kota Sumenep

Warga Sumenep pasti bertanya-tanya dimanakah Taman Hutan Kota Sumenep berada. Atau setidaknya pertanyaannya seputar seperti apa Taman Hutan Kota Sumenep itu. Sangat berbeda dengan Taman Adipura Sumenep yang sudah sangat terkenal seantero Madura, Taman Hutan Kota Sumenep jauh berbeda. Tak ada mainan anak-anak, yang ada hanya tanaman-tanaman tinggi, semak belukar, dan kolam ikan. Rata-rata pohon di Taman Hutan Kota ini berusia puluhan tahun, diantaranya pohon Pinang, pohon Nyamplung, Mangga, Palem, Bambu, Jambu Air, Ketapang, Gayam, dan masih banyak lagi tanaman lainnya.

Jadi dimana Taman Hutan Kota ini berada? Letaknya di Jl. Kamboja Sumenep, tak jauh dari komplek perkantoran Pemkab Sumenep. Sampai di jalan Kamboja tolah toleh mencari tulisan Taman Hutan Kota Sumenep, tentu akan sulit menemukannya. Karena memang tidak ada tulisan khusus yang menunjukkan tempat itu Taman Hutan Kota. Hanya sebuah tulisan yang dicetak diatas kertas putih dilaminating dan ditempelkan di sebuah pohon Akasia di sudut luar Taman Hutan Kota.

Sebenarnya ini adalah Taman Hutan Kota insidentil, yang tidak sengaja diberi nama Taman Hutan Kota karena saat ada lomba kebersihan, area ini sulit dibersihkan seperti area lainnya. Ya karena banyak pohon-pohon tinggi yang tidak mungkin ditebang hanya untuk keperluan lomba kebersihan. Beberapa petak kolam pun dipenuhi rumput tinggi dan rumpun-rumpun tanaman Pandan Wangi, nyaris seperti rawa. Akhirnya diberi nama Taman Hutan Kota saja, karena kondisinya memang seperti hutan di tengah kota. Tak ada yang dihilangkan untuk lomba kebersihan itu.

Bagian luar taman hutan kota ini berupa tanaman bambu Jepang yang hijau berderet. Keberadaan bambu-bambu ini sering menarik minat Wedding Organiser lokal untuk melengkapi dekorasi panggung mereka. Bagian dalam dari taman hutan kota ini belum ditata dengan baik, tanaman apa saja dibiarkan tumbuh apa adanya. Bahkan benalu pun tumbuh subur di pohon-pohon mangga yang usianya sudah puluhan tahun. Di kolam yang berair dangkal itu bisa ditemui tanaman-tanaman air selain Pandan, diantaranya kangkung, rumput, dan teratai yang tumbuh liar dan sering dimanfaatkan pencari rumput.

Ketidakteraturan taman hutan kota ini memang bukan tanpa alasan. Apapun itu, saya menginginkan Taman Hutan Kota ini menjadi taman yang indah, bukan hanya hutan yang lebat. Atau diganti saja menjadi Hutan Kota, tak perlu embel-embel nama Taman?