The Battle of Palm Sugar

Saat pertama membuka situs penyelenggara Give Away ini, saya langsung terpana dengan bahasan tentang gula aren. Saya sempat buka-buka beberapa tulisan yang berisi tentang gula aren. Sampai saya searching di blog Mbak Evi dengan kata kunci ‘gula aren’. Hasilnya keluarlah semua tulisan yang mengandung unsur kata gula aren. Tulisan-tulisan itu tersimpan dalam kategori ‘Jurnal Pohon dan Gula Aren’. Alamak, sudah banyak tulisan tentang gula aren mulai tahun 2008.

Jadilah saya membuka beberapa judul sekaligus dalam ‘new tab’. Yang paling membuat saya penasaran adalah tulisan tentang Karakteristik Gula Semut Aren. Karena saya ingin mereview, sebagai tugas utama dalam give away kali ini, sekaligus membandingkan dengan gula aren yang saya ketahui.  Tulisan-tulisan dalam Jurnal ini rata-rata singkat dan dilengkapi 1-2 gambar pendukung. Jadi membacanya tak perlu lama-lama. Dalam waktu 30 menit saja saya sudah selesai membaca lebih dari 5 judul.

Kenapa saya sebegitu tertariknya? Karena di Sumenep tempat saya tinggal sekarang, juga memiliki gula aren produksi lokal. Meski bukan dari aren, disini tetap disebut gula aren. Rasa gulanya sangat berbeda dengan gula merah yang beredar di pulau Jawa. Lebih harum dan rasanya khas,rasanya juga  tidak semanis gula merah dari kelapa. Bedanya gula merah yang dibahas dalam Jurnal Evi Indrawanto adalah bahan bakunya, yaitu aren atau enau (Arenga pinnata). Di tempat saya gula merah dibuat dari nira siwalan atau lontar (Borassus flabellifer L.).

Setelah membaca tulisan-tulisan dari Jurnal Pohon dan Gula Aren, banyak persamaan antara gula aren dari enau dengan siwalan. Mulai dari proses penyadapan nira, hasil sampingan nira (legen), pembuatan gula,manfaat, dan lain-lain. Perbedaan menyolok yang saya temukan adalah cara penjualan. Gula aren dalam tulisan Mbak Evi sudah dikemas dengan sedemikian rupa, sehingga pasti bernilai jual lebih tinggi. Selain itu label organik tentu saja membuat nilai lebih gula aren yang dibahas. Karakter gulanya juga dibuat berbeda, berbentuk butiran dan cair. Gula aren Sumenep masih berbentuk batok dengan tekstur bagian bawahnya seperti anyaman, karena memang cetakannya terbuat dari anyaman daun lontar. Warna gula aren di Sumenep tidak selalu sama, sangat tergantung pada cuaca. Apabila musim hujan, warna gula merah cenderung lebih gelap, sebaliknya pada musim panas gula berwarna cerah.

Gula Merah Siwalan

Saya sendiri penggemar gula dari siwalan. Ketika tinggal di Tangerang, saya tetap lebih suka memakai gula dari Sumenep, yang rutin saya ‘import’. Karena rasa dan aromanya yang khas. Untuk membuat kolak, saya tak perlu menambahkan daun pandan sebagai pewangi. Karena gula merah dari Sumenep ini sudah sangat wangi alami.  Ngemil gula siwalan ini juga membuat saya ketagihan.

Uji organoleptik yang sederhana tiba-tiba ingin saya lakukan. Saya ingin mencicipi gula aren yang sudah menjadi topik dalam jurnal mbak Evi, untuk melengkapi review saya ini. Beda rasanya dimana? Dan sungguh, tulisan-tulisan tentang gula aren di Jurnal ini juga menginspirasi untuk menjadikan gula sebagai bisnis yang menjanjikan.

BANNER-EVIINDRAWANTO1

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

Advertisements

Belajar Bahasa

Memilih sekolah dengan embel-embel ‘Islam Terpadu’ membuat anak-anak belajar 3 bahasa sekaligus. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Meski tak terlalu banyak kosa kata yang dipelajari, setidaknya anak-anak mengenal 3 bahasa itu.  Minimal mereka bisa mengenal angka dalam bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris. Pengenalannya memakai cara yang sama, lewat lagu-lagu sederhana.

Setelah pindah ke Sumenep, anak-anak semakin sering terdengar menyanyikan lagu tentang angka dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Kinar yang duduk di kelas playgroup lancar sekali menyanyikan lagu tentang angka itu dalam 3 bahasa.  Wajar saja kalau anak-anak lancar menyanyikannya, karena setiap akan masuk kelas mereka berbaris dan menyanyikan lagu itu.

Satu…*prok..prok..prok..prok..* Dua…*prok..prok..prok…prok..* Tiga..*begitu terus sampai sepuluh*

Bahasa Inggris.. One…*prok..prok..prok..* Two…*sampai Ten*

Bahasa Arab .. Wahid…*prok..prok..prok…* Itsnani…*prok..prok..prok*..Tsalatsa…*terus sampai ‘Asyra*

Memasuki bulan ke 3 bersekolah di Sumenep,  pengetahuan anak-anak tentang bahasa mau tidak mau harus bertambah lagi. Mereka belajar bahasa daerah, Madura. Setiap pulang sekolah atau sewaktu waktu mereka bertanya bahasa Maduranya ini, itu, dan mereka menyebut kosa kata yang sering dipakai dalam keseharian terutama saat di sekolah. Misalnya..’ nggak’ bahasa Maduranya apa… Setelah mereka menanyakan satu per satu..mereka merangkaikan tiap kata sendiri dengan versi mereka..Haha lucu juga mendengar mereka melafalkan bahasa Madura.

Sebagai kamus hidup bagi mereka, saya tidak terlalu kesulitan menjawab pertanyaan mereka tentang arti dalam bahasa Inggris dan Madura. Kesulitan saya adalah menjawab pertanyaan tentang bahasa Arab, meskipun saya pernah mengenyam pendidikan madrasah yang mengajarkan bahasa arab di tingkat lanjutan. Tapi karena pelajaran itu sudah berpuluh tahun yang lalu dan jarang dipakai, kebanyakan lupa nya.

Nares: Bunda..kalau bahasa inggrisnya rumput?

Bunda: grass..

Nares: kalau bahasa inggrisnya pohon?

Bunda: tree..

Nares: kalau bahasa inggrisnya bunga ..flower ya?

Bunda : iya..

Nares: kalau bahasa arabnya bunga?

Bunda: mmmmm…apa ya…*lupa…lupa….kamus mana…kamus mana….*