Kronologi Kopi Ku

Malang, 1997, 05.00

Rapat kepengurusan Impala baru saja usai. Kantuk dan lelah sudah pastilah menumpuk di pagi yang dingin. Kantukku belum waktunya diusir dengan tidur. Karena jam 07.00 sudah harus masuk ruang kuliah. Pulang ke tempat kost hanya untuk mandi, dan ngopi. Segelas kopi instan tanpa gula dioplos dengan minuman bercampur susu dan sereal. Mengenyangkan, dan tentu saja cukup untuk menahan kantuk setidaknya selama di ruang kuliah. Meski tanpa asupan nasi dan lauk pauk, minum kopi dengan cara ini membuat asam lambungku enggan meningkat. Aktivitas organisasi yang tinggi disambi kuliah, membuat kopi oplosan seperti ini rutin kuminum setiap pagi.

Malang, 2001, 06.00

Larut dalam aktivitas kerja di ruang berita sebuah radio swasta di Kota Malang. Berangkat sebelum subuh, mendapat giliran menyalakan pemancar. Tugas yang sangat mudah, teramat sangat singkat, tapi harus ontime. 10 menit sebelum mengudara tepat jam 05.00, tuas untuk menyalakan pemancar di ruang khusus pemancar yang adem sudah harus naik. Bisa tidur setelah itu?Tentu tidak. Sebagai tim berita punya tugas menyiap berita yang akan disajikan mulai jam 06.00. Tidakkah kantuk menggoda?Pasti. Kopi di pagi hari juga sudah pasti mengobati godaan kantuk. Kadang  1 sachet  kopi instan tanpa gula sudah cukup. Setidaknya sampai kru lainnya datang, dan lalu lintas pemberitaan mulai padat, yang tak akan menyisakan ruang dan waktu untuk datangnya kantuk.

21.00

Pulang ke tempat kost, selepas menyelesaikan pekerjaan di radio. Tak bisa langsung tidur. Deadline menyelesaikan skripsi semakin dekat. Berbekal komputer sewaan, skripsi harus dikebut setiap malam. Sudah pasti, kopi menjadi teman setia menjaga konsentrasi sampai menjelang pagi. Masih kopi instan sachet tanpa gula. Kopi yang khusus dikirim dari kampung halaman oleh ibunda tercinta. Maka mengalirlah setiap kata hingga menjadi ribuan kata.

Jakarta , 2004, 13.00

Cuaca panas terik di sekitar Menteng. Pelatihan peliputan untuk pemilu yang diadakan sebuah NGO internasional sedang break. Makan siang sudah selesai. Masih ada waktu sebelum kembali ke ruang pelatihan. Untuk memanfaatkan waktu dan menyiapkan konsentrasi setelah makan siang, wajiblah secangkir kopi dulu. Rasanya biasa. Tapi ternyata cukup tahan sampai sore menjelang.

Banda Aceh, 2006, 19.00

Pertama kali menginjakkan kaki di bumi rencong. Seorang diri. Setelah menyelesaikan tugas kantor, terpikir untuk bersantai di seputaran kota. Kebetulan ada teman semasa di kampus dulu yang juga sedang bertugas di Banda Aceh. Bagi yang sudah akrab dengan Aceh pastilah tau dimana tempat yang tepat untuk menghabiskan malam sambil menicicipi kopi yang sudah mendunia. Tempatnya hanya beberapa meter saja dari Masjid Raya Banda Aceh.  Ada pilihan kopi dingin atau kopi panas. Aku memilih kopi dingin. Temanku sama sekali tak menjelaskan apa saja komposisi kopi dingin yang menyerupai kopi susu, tapi terasa sangat enteng. 1 gelas saja cukup meski gelasnya kecil. Tak ada reaksi mengganggu di lambung. Karena tak ada hal penting yang menuntut konsentrasi hingga larut malam, segelas kopi tadi malah membantu tidurku lelap.

Takengon, 2006, 14.00

Masih dalam rangka bertugas sowan ke radio di Aceh,kali ini mendarat di sebuah radio di Takengon. Dataran tinggi yang elok, sekitar 4-5 jam dari Banda Aceh lewat Bireun.  Kunjungan singkat ke Takengon ini membuat tak sempat mencicipi kopi yang cukup terkenal juga, Kopi Gayo.  Sesampai di Bireun dan menjalankan tugas seperti biasa, ada sesorang yang datang. Rupanya pemilik radio di Takengon. Dia datang tergopoh-gopoh hanya untuk menyerahkan 2 bungkus kopi Gayo masing-masing berisi 250 gram. “Kopi Gayo ini beda, dijamin ketagihan” itu saja pesannya. Di kamar hotel di Bireun aku menyempatkan membuka kemasan kopi tubruk asli Gayo.  Memang mantap. No words can say 🙂

Pamulang, 2011, 17.00

Inilah aku ibu dengan 2 anak yang  sedang mengumpulkan konsentrasi untuk menyelesaikan dokumen-dokumen pekerjaan Pemprov DKI Jakarta. Ada 3 pilihan kopi yang bisa diajak menemani. Kopi tubruk asli Lampung, kopi tubruk asli Jambi dalam dos jingga, atau kopi luwak Lampung pemberian teman yang cuma tersedia 2 sachet. Aku pilih 1 sachet kopi luwak asal Lampung. Kental sekali, dengan tambahan sedikit gula. Pahit legit.

Sumenep, 2013, 22.00

2 putriku sudah terlelap. Mataku belum ingin terpejam, pastilah karena secangkir kopi tubruk berlabel asal Manggarai yang kuhabiskan selepas magrib tadi. Sengaja. Untuk bekerja keras menyelesaikan tulisan ini. Alhamdulillah, selesai juga. Bahwa tulisan ini tidak menarik, tak mengapa. Setidaknya dunia tahu, negeriku punya kopi dengan ciri khasnya sendiri. Dan dunia tahu, kopi punya andil dalam setiap karyaku. Markitngoplis…Mari Kita Ngopi sambil Nulis

Advertisements

2 thoughts on “Kronologi Kopi Ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s